Harga Minyak Dunia Turun Signifikan setelah Pengumuman Trump
MediaHub – Harga minyak dunia mengalami penurunan drastis setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan penundaan serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Iran. Pengumuman ini datang bersamaan dengan rencana untuk melakukan negosiasi antara kedua negara, yang terjadi pada Senin (23/3).
Menurut laporan dari CNN pada Selasa (24/3), harga minyak mentah Brent tercatat turun sebesar 10,92 persen, menjadi US$99,94 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah AS juga terpukul, merosot hingga 10,28 persen menjadi US$88,13 per barel. Ini merupakan penurunan terbesar dalam satu hari sejak awal bulan Maret.
Bukan hanya minyak, namun harga bahan bakar turunan pun terkena dampak. Kontrak berjangka diesel di AS mengalami penurunan sekitar 10 persen, sedangkan harga bensin turun 9,5 persen. Meski demikian, jika dilihat dari perspektif tahunan, keduanya masih menunjukkan kenaikan yang signifikan, masing-masing sekitar 79 persen untuk diesel dan 73 persen untuk bensin.
Di sisi lain, harga emas juga melanjutkan tren penurunan, tercatat melemah lebih dari 3 persen setelah sebelumnya menunjukkan kenaikan yang tajam dalam beberapa bulan terakhir. Indeks dolar AS turut mengalami penurunan sekitar 0,5 persen.
Di pasar saham, indeks utama pasar Amerika Serikat justru menunjukkan penguatan. Dow Jones naik 631 poin atau 1,38 persen, S&P 500 bertambah 1,15 persen, dan Nasdaq menguat 1,38 persen, memutus tren penurunan yang terjadi sebelumnya. Para analis menilai bahwa pasar merespons positif sinyal deeskalasi dari Trump, meskipun ketidakpastian masih menghantui.
Chris Larkin, Direktur Perdagangan E-Trade dari Morgan Stanley, menjelaskan, “Pasar terbangun dengan harapan akan kabar baik dari Timur Tengah pada Senin.” Namun, Ia juga memperingatkan bahwa reli pasar tergantung pada perkembangan situasi geopolitik.
Ketidakpastian masih menyelimuti, terutama setelah militer Israel dilaporkan terus melakukan serangan ke Teheran, dan Iran membantah adanya negosiasi dengan AS. “Iran tidak mengadakan negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat,” tegas Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Di tingkat konsumen, dampak dari ketegangan antara Iran dan AS-Israel terasa nyata. Harga bensin di AS tercatat mengalami kenaikan selama 23 hari berturut-turut, mencapai US$3,96 per galon, tertinggi sejak Agustus 2022. Kenaikan ini mencapai 34 persen dalam sebulan terakhir, mencatatkan lonjakan bulanan terbesar yang melampaui periode pasca-Badai Katrina pada 2005 dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Walaupun harga minyak mentah menunjukkan penurunan, penyesuaian harga BBM di tingkat konsumen nampaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat, karena proses penyesuaian harga memerlukan waktu.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
