UEA Keluar dari OPEC, Ini Penjelasan tentang OPEC dan OPEC+
Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keputusan untuk keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) sekaligus aliansi OPEC+. Keputusan ini disampaikan di tengah memanasnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang turut mengguncang pasar energi dunia.
Langkah UEA disebut sebagai hasil evaluasi menyeluruh terhadap strategi energi nasional. Sebagai salah satu produsen minyak utama di Timur Tengah, UEA memiliki kapasitas produksi sekitar 4,8 juta barel per hari.
Dengan keluar dari OPEC, UEA dinilai akan memiliki ruang lebih besar untuk mengatur produksi secara fleksibel tanpa terikat kuota organisasi. Kebijakan ini juga dianggap sejalan dengan ambisi negara tersebut untuk mengoptimalkan pasokan minyak guna merespons permintaan energi global yang terus meningkat.
Situasi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi faktor penting. Konflik dengan Iran, termasuk potensi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz, disebut ikut memengaruhi stabilitas ekspor energi UEA dan mendorong perubahan kebijakan strategis.
Apa itu OPEC dan OPEC+?
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) adalah organisasi antarnegara produsen minyak yang didirikan pada 1960 di Baghdad oleh Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Berkantor pusat di Wina, Austria, OPEC dibentuk untuk menyatukan kebijakan minyak negara anggota dan menjaga stabilitas harga minyak dunia.
Pada masa awalnya, pasar minyak global didominasi oleh perusahaan-perusahaan Barat besar yang dikenal sebagai “Seven Sisters”. Kehadiran OPEC memberi negara produsen kendali yang lebih besar atas sumber daya energi mereka.
Saat ini, OPEC memiliki 12 anggota dan secara kolektif mengatur sekitar 30 persen pasokan minyak dunia melalui kesepakatan kuota produksi antaranggota.
Sementara itu, OPEC+ adalah perluasan kerja sama OPEC yang dibentuk pada 2016 dengan melibatkan negara-negara produsen minyak di luar OPEC, seperti Rusia, Kazakhstan, dan Meksiko. Tujuan utamanya adalah mengoordinasikan produksi minyak untuk menjaga stabilitas harga global.
Kelompok OPEC+ kini menguasai lebih dari 40 persen produksi minyak dunia, sehingga memiliki pengaruh besar terhadap dinamika harga energi internasional.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
