Penurunan Drastis Wisatawan China ke Jepang Sejak Perselisihan Diplomatik

19 Mar 2026 • 01:54 iMedia

MediaHub – Jumlah pengunjung dari China ke Jepang mengalami penurunan signifikan, mencapai 45,2 persen pada bulan Februari 2026 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dampak dari ketegangan diplomatik antara kedua negara terus berlanjut, tercatat tiga bulan berturut-turut.

China sebelumnya adalah penyumbang utama wisatawan ke Jepang, mendorong lonjakan pariwisata di negara dengan keindahan bunga sakura dan panorama Gunung Fuji. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah lemahnya nilai yen, yang membuat biaya belanja di Jepang menjadi lebih terjangkau.

Namun, pada bulan Januari, Korea Selatan berhasil melampaui China sebagai negara dengan jumlah wisatawan tertinggi yang berkunjung ke Jepang. Pada bulan Februari, pengunjung dari Korea Selatan meningkat 28,2 persen, mencapai 1,1 juta orang, sementara pengunjung dari China hanya 396.400 orang, menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang.

Menariknya, 18 negara dan wilayah lain mencatatkan jumlah pengunjung yang memecahkan rekor di Jepang pada bulan Februari, termasuk Taiwan dan Amerika Serikat.

Hubungan antara Jepang dan China menjadi semakin tegang setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November 2025 mengindikasikan kemungkinan campur tangan militer dalam situasi Taiwan, yang dianggap China sebagai bagian dari wilayahnya. Reaksi China cukup keras, dengan memanggil duta besar Jepang dan memperingatkan agar warganya tidak mengunjungi Jepang.

Secara berturut-turut, jumlah wisatawan dari China ke Jepang mengalami penurunan 45 persen pada bulan Desember 2025 dan 60,7 persen di bulan Januari 2026. Sementara itu, negara lain seperti Korea Selatan justru mengalami kenaikan jumlah wisatawan Tiongkok. Pada Januari 2026, tercatat 418.703 wisatawan dari China mengunjungi Korea Selatan, naik dari 364.460 pada tahun sebelumnya.

Di Thailand, jumlah wisatawan China juga mengalami peningkatan rata-rata 4,24 persen selama periode Januari-Februari dibandingkan tahun lalu. Menjelang puncak musim bunga sakura di Jepang yang diperkirakan terjadi pada akhir Maret dan awal April, beberapa laporan media lokal menunjukkan bahwa penurunan jumlah wisatawan China terus berlanjut.

Hotel-hotel di wilayah Teluk Tokyo melaporkan bahwa jumlah tamu dari China telah berkurang setengahnya sejak bulan November, dan tren ini diperkirakan akan berlanjut pada bulan Maret dan April 2026. Meskipun begitu, beberapa hotel lainnya tidak merasakan dampak signifikan dari perubahan hubungan antara Tokyo dan Beijing.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya