Strategi Non-Intervensi China Dinilai Membuat Iran Makin Dekat
MEDIAHUB.ID – Kunjungan Menteri Luar Negeri Iran ke Beijing dinilai bukan sekadar agenda ekonomi atau perdagangan biasa, melainkan penegasan bahwa strategi panjang China di Timur Tengah mulai menunjukkan hasil.
Hal itu disampaikan pengamat geopolitik sekaligus Direktur Eksekutif Global Future Institute, Hendrajit, dalam wawancara di TvOne News, Jumat, 15 Mei 2026.
Menurut Hendrajit, hubungan Iran dan China merupakan buah dari fondasi yang telah lama dibangun Beijing di kawasan melalui strategi non-intervensi.
“Pendekatannya non-militer, tidak memaksakan kehendak seperti Amerika, dan melalui ekonomi perdagangan. Tapi di dalam benak China sendiri buahnya itu harus merupakan persekutuan solid dan saling percaya di bidang politik dan pertahanan,” ujarnya.
Ia menilai, dari kerja sama ekonomi itulah China membangun kepercayaan politik dan pertahanan dengan sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk Iran, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, hingga Suriah.
Fondasi tersebut, kata dia, kini membuat Tiongkok memiliki pengaruh diplomatik yang besar di kawasan saat konflik memanas.
“Ini memang justru buah manis dari benih yang ditanam oleh China sendiri di Timur Tengah,” kata Hendrajit.
Ia juga menyoroti keberhasilan China dalam mendamaikan Iran dan Arab Saudi pada Maret 2023 sebagai bukti bahwa strategi ekonomi Beijing telah berkembang menjadi kekuatan geopolitik yang efektif.
Lebih jauh, Hendrajit menilai Belt and Road Initiative serta konsep Jalur Sutra modern menjadi kerangka besar China dalam membangun soliditas geografis, ekonomi, dan politik lintas kawasan.
Dalam konteks itu, Iran disebut memiliki nilai strategis penting sebagai penghubung Asia Tengah, Asia Selatan, dan Timur Tengah, sehingga posisinya vital bagi kepentingan Beijing.
“Itu berarti kan aset lokasi geografis tiba-tiba menjadi suatu yang bukan hanya ekonomi nilainya tapi politik dan strategis,” pungkasnya.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
