Indonesia Perlu Petik Pelajaran Strategi dari Perang Laut Iran 2026

18 Apr 2026 • 22:13 iMedia

MEDIAHUB.ID – Dewan Pakar Kesatuan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Salim, menilai konflik laut yang melibatkan Iran pada 2026 dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia, terutama dalam hal strategi pertahanan maritim.

Salim mengatakan, pendekatan Iran dalam perang laut mencerminkan gagasan Sun Tzu dalam The Art of War, yakni upaya menaklukkan lawan tanpa harus bertempur secara langsung. Menurut dia, laut tidak lagi dipahami sebagai medan tempur statis, melainkan sebagai ruang aliran yang dinamis.

“Iran mempraktikkan seni menaklukkan musuh tanpa bertempur secara langsung melalui disrupsi kognitif dan ekonomi,” kata Salim dalam pesan elektronik kepada RMOL di Jakarta, Sabtu malam, 18 April 2026.

Ia menjelaskan, teori Sea Denial atau penolakan laut yang diterapkan Iran merupakan bentuk modern dari filsafat Small Navies, yang menekankan pencegahan dominasi lawan. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa strategi asimetris dapat menjadi jawaban atas hegemoni global.

“Strategi ini didukung oleh teori Antisipasi Strategis yang menekankan bahwa kemenangan dimulai dari dalam pikiran. Iran menggabungkan Teori Attrisi dengan filsafat perlawanan Ashura, yakni keyakinan bahwa pengorbanan dan keteguhan moral mampu meruntuhkan kekuatan material yang jauh lebih besar,” ujarnya.

Kandidat doktor Universitas Airlangga itu juga menyebut secara teoretis strategi Iran sejalan dengan Doktrin Gerasimov tentang perang hibrida. Dalam doktrin tersebut, serangan siber, tekanan ekonomi, dan operasi psikologis memiliki pengaruh besar selain kekuatan militer konvensional.

“Mereka juga memahami filsafat The Center of Gravity dari Clausewitz, bukan lagi pada pusat komando militer musuh, melainkan pada opini publik dan kestabilan pasar global,” kata Salim.

Dalam konteks Indonesia, Salim menilai pengalaman tersebut memberi pelajaran tentang pentingnya kecerdasan strategis dalam menjaga kedaulatan maritim. Ia menyebut konsep Green Water Navy yang dipadukan dengan pertahanan pantai berlapis dapat menjadi referensi bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

“Kita diingatkan oleh filsafat Tirta Amarta, bahwa air adalah sumber kehidupan sekaligus senjata mematikan bagi mereka yang tahu cara menghormatinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, bangsa yang besar bukan hanya yang bangga dengan luas wilayah, tetapi juga yang memiliki kedalaman strategi dalam menghadapi tantangan. Menurut dia, pengelolaan laut yang tepat dapat menjadikan setiap ancaman sebagai peluang untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.

Salim menegaskan, perang laut Iran 2026 menunjukkan lahirnya doktrin pertahanan yang menantang pakem militer konvensional. Prinsip yang diusung Teheran adalah bahwa jika tidak bisa menang cepat, maka lawan tidak boleh menang sama sekali.

“Bagi Indonesia, pelajarannya adalah ketahanan nasional tidak diukur dari seberapa cepat menghancurkan musuh, melainkan dari seberapa sulit ditaklukkan,” katanya.

Ia pun menilai Indonesia perlu membangun kemampuan pertahanan yang mampu membuat wilayah perairan Nusantara menjadi ruang yang sulit ditembus pihak luar.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya