Kenaikan Harga Minyak Dunia Dipicu Perang Iran dan AS

16 Mar 2026 • 02:58 iMedia

MediaHub – Harga minyak dunia terus melambung pada hari Senin (16/3) seiring intensifikasi konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Harga minyak mentah mencatatkan kenaikan hampir 2 persen, melampaui angka US$105 per barel.

Ketegangan yang terjadi telah mengancam infrastruktur minyak di kawasan Teluk, sekaligus memicu penutupan Selat Hormuz. Dampaknya, gangguan pasokan global terbesar dalam sejarah semakin nyata terjadi.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak sebesar US$2,01 atau setara 1,95 persen, mencapai harga US$105,15 per barel. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan sebesar US$1,61 atau 1,63 persen, dengan harga mencapai US$100,32 per barel. Kedua kontrak tersebut mencatat peningkatan lebih dari 40 persen sepanjang Maret 2023, menandai level tertinggi sejak tahun lalu.

Serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran memaksa Teheran untuk menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, yang menjadi rute krusial bagi sepertiga pasokan minyak dunia.

Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg, tempat yang menangani sekitar 90 persen dari total ekspor minyak negara tersebut. Balasan cepat dari Teheran juga terjadi, dengan ancaman bahwa mereka akan membalas serangan tersebut. Tak lama setelah itu, drone Iran menyerang terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab, yang terletak di luar Selat Hormuz.

Kendati terjadi gangguan, operasi pemuatan minyak di Fujairah telah dilanjutkan, meski stabilitas operasionalnya masih belum jelas. Analis SEB, Erik Meyersson, menjelaskan bahwa AS sedang mengkaji opsi berisiko tinggi yang dapat menciptakan eskalasi lebih lanjut di Iran, termasuk penyerangan terhadap fasilitas nuklir dan penguasaan sumber daya minyak di Pulau Kharg.

Meyersson menekankan bahwa situasi saat ini membutuhkan toleransi terhadap risiko yang jauh lebih besar. Dalam konteks ini, AS juga mendorong sekutu-sekutunya untuk mengerahkan kapal perang guna melindungi keamanan pelayaran di Selat Hormuz, sementara Trump menolak tawaran negosiasi diplomatik dari negara-negara Timur Tengah.

Di tengah situasi yang tak menentu ini, Iran pun menolak kemungkinan gencatan senjata hingga AS dan Israel menghentikan serangan. Harapan untuk penyelesaian konflik pun semakin meredup seiring berlanjutnya situasi tersebut.

Ketika konflik memasuki minggu ketiga, kekhawatiran akan eskalasi yang tak terhindarkan semakin meningkat di pasar global. Untuk mengatasi lonjakan harga tersebut, International Energy Agency (IEA) mengumumkan rencana pelepasan lebih dari 400 juta barel cadangan minyak ke pasar, langkah terbesar yang diambil demi meredakan situasi pasar akibat perang di Timur Tengah.

Cadangan minyak dari negara-negara di Asia dan Oseania akan segera dilepas, sedangkan stok dari Eropa dan Amerika akan tersedia pada akhir Maret ini.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya