Lukisan Kuda Api Karya SBY Terjual Rp6,5 Miliar di Lelang Imlek
MediaHub – Dalam sebuah lelang yang tak terlupakan, lukisan kuda api yang dihasilkan oleh Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, berhasil terjual dengan nilai yang mencengangkan yaitu Rp6,5 miliar. Penjualan ini berlangsung di acara Perayaan Hari Raya Imlek yang digelar oleh Partai Demokrat di Djakarta Theater pada Rabu, 18 Februari 2026.
Lelang dibuka dengan tawaran awal sebesar Rp200 juta. Tak lama kemudian, harga mulai melambung tinggi hingga mencapai Rp1 miliar saat Deddy Corbuzier ikut serta dalam penawaran tersebut. Tawaran demi tawaran mengalir deras, dan harga pun terus melonjak dengan kelipatan Rp1 miliar.
Pengusaha Hermanto Tanoko dan perwakilan dari keluarga Dato Low, Low Tuck Kwong, terlibat dalam persaingan ketat hingga akhirnya tawaran terkerek hingga Rp6,5 miliar, dan kemenangan di tangan keluarga Dato Low.
Profil Low Tuck Kwong
Menurut informasi yang diperoleh dari Forbes, Low Tuck Kwong adalah salah satu individu terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan mencapai 20,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp345,5 triliun (berdasarkan kurs Rp16.940). Lahir di Singapura, ia dikenal luas sebagai ‘raja batu bara’ dan merupakan pendiri Bayan Resources, perusahaan batu bara terkemuka di negeri ini.

Low tidak selalu berada di posisi atas seperti saat ini. Ia memiliki latar belakang yang penuh dengan tantangan. Pada usia 3 tahun, ia mengikuti ayahnya yang bermigrasi dari Guangzhou, China ke Singapura. Ayahnya memulai sebuah perusahaan konstruksi sipil bernama Sum Cheong di sana.
Di usia 14 tahun, Low mulai membantu bisnis keluarganya setelah pulang dari sekolah. Perusahaan Sum Cheong berkembang pesat dan berhasil menjadi salah satu pemain utama di sektor konstruksi di Singapura dan Malaysia. Namun, Low tidak ingin melanjutkan perusahaan milik ayahnya. Ia melihat peluang yang lebih besar di Indonesia dan memutuskan untuk mengembangkan usaha di sana.
Pada tahun 1973, saat berusia 25 tahun, Low mendapatkan proyek pertama yang signifikan, yaitu pekerjaan dasar untuk pabrik es krim di Ancol, Jakarta Utara. Ia mencatatkan diri sebagai kontraktor pertama yang menggunakan palu diesel untuk mempermudah dan mempercepat proses pemancangan.
Usahanya terus berkembang seiring waktu, dan ia akhirnya merambah ke sektor batu bara dengan mendirikan Bayan Resources. Low mengingat kembali perjalanan sulitnya, mengatakan, “Kami tidak memiliki jalan yang mudah sejak awal. Banyak orang meragukan kami (karena membeli tambang), mereka menganggap kami gila.”
