Indonesia Gandeng Teknologi Korea untuk Perkuat Pertahanan Hadapi Ancaman Siber

28 Apr 2026 • 22:31 iMedia

MEDIAHUB.ID – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 3,5 miliar anomali trafik siber yang menargetkan infrastruktur digital Indonesia sepanjang 2025. Serangan itu menyasar berbagai sektor penting, mulai dari Internet of Things (IoT), sistem pembayaran digital, hingga infrastruktur industri.

Melihat kondisi tersebut, penguatan sistem keamanan siber dinilai semakin mendesak, bukan hanya sebagai kebutuhan teknis, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan aktivitas digital masyarakat dan pelaku bisnis.

Finance & Risk Management Director Digiserve, Buddy Restiady, mengatakan transformasi digital yang berkelanjutan harus ditopang oleh keamanan siber yang kuat.

“Kami menyadari bahwa transformasi digital yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi keamanan siber yang kuat. Melalui kolaborasi dengan mitra teknologi cybersecurity asal Korea, kami menghadirkan pendekatan advanced security analytics dan threat detection yang telah teruji secara global, namun tetap relevan dengan kebutuhan bisnis di Indonesia,” ujar Buddy, Selasa (28/4/2026).

Ia menambahkan, meningkatnya adopsi digital turut membawa tantangan baru, terutama terkait risiko kebocoran data dan serangan siber yang semakin canggih.

Selain itu, Indonesia masih menghadapi kekurangan besar dalam talenta keamanan siber. Kebutuhan tenaga profesional diperkirakan masih kurang sekitar 0,6 hingga 1,5 juta orang di masa mendatang. Di sisi lain, kompleksitas penggunaan berbagai alat keamanan di perusahaan juga menjadi tantangan tersendiri.

Dari sisi kerugian, serangan siber juga memberikan dampak finansial yang besar. Rata-rata kerugian akibat ransomware di Indonesia disebut mencapai sekitar Rp4,7 miliar per insiden, dengan total potensi kerugian tahunan diperkirakan lebih dari Rp8 triliun.

Sebagai respons, penguatan sistem keamanan berbasis layanan terkelola mulai banyak diadopsi, termasuk melalui pendekatan Security Operation Center as a Service (SoCaaS).

“Sebagai bagian inisiatif ini, solusi ini dirancang scalable dan adaptif, sehingga perusahaan dapat meningkatkan postur keamanan tanpa perlu mengelola SOC secara mandiri,” kata Buddy.

Solusi tersebut menawarkan deteksi ancaman berbasis teknologi Korea, dukungan tim ahli lokal, serta fleksibilitas untuk berbagai skala bisnis.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem digital Indonesia agar lebih aman, tangguh, dan siap menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya