Terbangun Sebelum Alarm Bunyi, Lebih Baik Lanjut Tidur atau Bangun Saja?
MEDIAHUB.ID – Pernah terbangun sebelum alarm berbunyi dan bingung, lebih baik lanjut tidur atau langsung bangun? Menurut para ahli tidur, jawabannya tidak selalu sama karena bergantung pada waktu terbangun, kondisi tubuh, dan fase tidur yang sedang berlangsung.
Mengutip Real Simple, keputusan untuk kembali tidur memang bisa bermanfaat dalam kondisi tertentu. Namun, ada kalanya justru membuat tubuh terasa lebih berat saat bangun. Saat seseorang terbangun, meski hanya sebentar, proses pemulihan tubuh saat tidur bisa terganggu.
Dokter pengobatan integratif Lamees Hamdan menjelaskan, tidur sehat idealnya melewati beberapa tahap, mulai dari non-REM hingga REM. Pada fase non-REM dalam, tubuh memulihkan kondisi fisik, mendukung aktivitas imun, dan melepaskan hormon pertumbuhan. Sementara itu, fase REM berperan dalam pemrosesan memori, pengaturan emosi, dan pemulihan otak.
“Saat terbangun tengah malam lalu kembali tidur, tubuh sementara keluar dari pola tidur normalnya dan kemudian mencoba masuk kembali ke dalamnya,” ujar Hamdan.
Ia menambahkan, gangguan tersebut dapat memicu peningkatan sementara pada hormon stres seperti kortisol, detak jantung, dan tingkat kewaspadaan. Meski begitu, terbangun di malam hari sesekali masih tergolong wajar.
Yang perlu diwaspadai adalah jika hal itu terjadi terlalu sering. Kebiasaan terbangun berulang setiap malam bisa mengganggu tidur dalam dan REM, yang pada akhirnya memicu kelelahan, gangguan suasana hati, dan peningkatan stres.
Lalu, jika terbangun sebelum alarm, sebaiknya lanjut tidur atau bangun? Para ahli menyebut keputusannya bergantung pada apakah kebutuhan tidur sudah terpenuhi. Orang dewasa sehat umumnya membutuhkan 7 hingga 9 jam tidur berkualitas setiap malam untuk menjaga kesehatan tubuh dan fungsi kognitif.
Jika durasi tidur belum cukup, kamu disarankan kembali tidur. Namun ada pengecualian penting: bila alarm akan berbunyi dalam waktu 90 menit atau kurang, sebaiknya tidak perlu tidur lagi.
Penasihat medis utama Sleepopolis, Raj Dasgupta, menjelaskan bahwa satu siklus tidur berlangsung sekitar 90 menit. Jika terbangun di tengah siklus, tubuh berisiko mengalami sleep inertia, yakni kondisi pusing, linglung, dan sulit berkonsentrasi setelah bangun tidur.
Meski begitu, bangun lebih awal tidak selalu menjadi masalah. Menurut Dasgupta, jika seseorang terbangun sekitar 30 menit atau kurang sebelum alarm berbunyi, kondisi itu justru bisa menjadi tanda jadwal tidur sudah selaras dengan ritme sirkadian.
Dalam kondisi seperti itu, memaksa tidur kembali belum tentu diperlukan, terutama bila tubuh sudah terasa cukup segar atau waktu bangun memang sudah dekat. Jika tidak ingin langsung beranjak, berbaring tenang juga bisa menjadi pilihan yang baik.
Intinya, dengarkan sinyal tubuh. Jika masih mengantuk dan alarm masih lama berbunyi, lanjutkan tidur. Namun jika sudah terjaga dan waktu bangun semakin dekat, sebaiknya bangun agar terhindar dari rasa pusing dan linglung setelah tidur kembali.
