Komunitas Ini Punya Cara Dekatkan Isu Krisis Iklim ke Anak Muda
MEDIAHUB.ID – Koordinator Generasi Peduli Iklim, Muhammad Asyrof Naf’il, mengatakan salah satu tantangan terbesar dalam kampanye lingkungan adalah menerjemahkan isu global yang kompleks menjadi pesan yang mudah dipahami masyarakat.
Menurut Asyrof, penyampaian pesan tidak bisa dilakukan dengan bahasa yang terlalu teknis. Ia menilai, jika isi Paris Agreement disampaikan tanpa penjelasan yang sederhana, pesan itu akan sulit diterima publik.
“Kalau kita menerjemahkan apa yang tertulis di Paris Agreement tetapi tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami, itu akan sulit nyampenya ke masyarakat. Kita tidak bisa menggunakan bahasa langit,” ujar Asyrof.
Karena itu, komunitas tersebut memilih memanfaatkan konten visual, video singkat, hingga infografis dalam menyampaikan edukasi iklim di media sosial.
“Kita menggunakan bahasa yang sederhana, relevan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, kami juga memanfaatkan konten visual atau video singkat, reels, dan infografis agar isu krisis iklim ini bisa sampai ke banyak orang,” katanya.
Asyrof menilai media sosial menjadi ruang penting untuk membangun kesadaran lingkungan karena sebagian besar anak muda saat ini akrab dengan platform digital. Melalui kanal itu, Generasi Peduli Iklim juga aktif mengangkat isu lingkungan yang terjadi di berbagai daerah.
“Postingan terbaru kami soal Pasuruan, hasil kolaborasi dengan organisasi lain, bisa menjangkau banyak views sehingga pesan-pesan yang ingin kami sampaikan dapat tersebar luas ke khalayak umum,” jelasnya.
Meski aktif mengedukasi lewat media sosial, Generasi Peduli Iklim tidak ingin gerakan lingkungan terasa eksklusif atau menghakimi masyarakat. Komunitas ini justru berupaya menciptakan ruang belajar yang lebih inklusif bagi siapa saja yang ingin memahami isu lingkungan.
“Kami mencoba membuat gerakan lingkungan terasa lebih dekat, inklusif, dan tidak menghakimi,” ujar Asyrof.
Selain menyebarkan informasi, komunitas tersebut juga mendorong pengikut media sosial mereka untuk terlibat langsung dalam berbagai aksi lingkungan, mulai dari penanaman mangrove, kegiatan bersih pantai, hingga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Menurut Asyrof, perubahan perilaku tidak cukup dibangun hanya lewat unggahan media sosial. Keterlibatan langsung dinilai penting agar masyarakat dapat merasakan hubungan yang lebih dekat dengan lingkungan.
“Untuk bisa sampai di tahap mengubah perilaku, tentu kita harus mengajak secara langsung. Misalnya, mengajak mereka menanam mangrove atau melakukan beach cleanup,” katanya.
Melalui pendekatan yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian, Generasi Peduli Iklim berharap isu krisis iklim tidak lagi dipandang sebagai persoalan yang jauh atau terlalu rumit dipahami masyarakat. Komunitas ini juga ingin semakin banyak anak muda melihat bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil di sekitar mereka.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
