Pemprov DKI dan Danantara Kolaborasi Percepat Penanganan Sampah Jakarta
MEDIAHUB.ID – Langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggandeng Danantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) mendapat apresiasi dari Anggota DPD RI Fahira Idris.
Senator asal Jakarta itu menilai kolaborasi tersebut menjadi momentum penting untuk mempercepat penanganan krisis sampah di ibu kota yang semakin mendesak.
“Persoalan sampah Jakarta sudah berada pada level darurat sehingga membutuhkan terobosan yang cepat, terukur, dan berkelanjutan,” ujar Fahira dalam keterangan resminya, Minggu, 10 Mei 2026.
Meski demikian, Fahira mengingatkan bahwa keberhasilan PSEL tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fasilitas semata. Menurut dia, diperlukan tata kelola menyeluruh dari hulu hingga hilir agar program berjalan efektif dan berkelanjutan.
Ia pun menyampaikan tujuh rekomendasi untuk mendukung implementasi PSEL di Jakarta. Pertama, PSEL harus dipahami sebagai salah satu bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu, bukan satu-satunya solusi. Pembenahan dari hulu seperti pemilahan sampah, penguatan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pengurangan sampah plastik sekali pakai, dan edukasi publik tetap harus menjadi prioritas.
Kedua, teknologi yang digunakan dalam fasilitas PSEL harus benar-benar ramah lingkungan dan memenuhi standar emisi internasional. Transparansi teknologi, pengawasan emisi, dan keterbukaan data lingkungan dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik.
Ketiga, pembangunan PSEL perlu menjaga ekosistem ekonomi sirkular yang selama ini sudah berjalan di masyarakat, seperti pemulung, bank sampah, dan pelaku daur ulang. Transformasi pengelolaan sampah, kata dia, harus dilakukan secara inklusif dan berkeadilan.
Keempat, tata kelola proyek dan skema pembiayaan PSEL harus transparan, akuntabel, dan prudent agar tidak menimbulkan persoalan baru di masa depan, baik dari sisi fiskal maupun operasional.
Kelima, pemerintah perlu memastikan keberadaan PSEL tidak mengurangi semangat pengurangan sampah dari masyarakat. Pasokan sampah untuk PSEL harus tetap dikendalikan dan diselaraskan dengan target pengurangan sampah nasional.
Keenam, pembangunan PSEL harus dibarengi penguatan infrastruktur pendukung seperti TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle), RDF (Refuse-Derived Fuel), sistem pengangkutan sampah terpilah, hingga digitalisasi pengelolaan sampah agar sistem di Jakarta lebih terintegrasi dan efisien.
Ketujuh, komunikasi publik dan pelibatan masyarakat harus dilakukan sejak awal secara terbuka dan konsisten. Menurut Fahira, persoalan sampah bukan hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut aspek sosial dan kepercayaan publik.
Ia berharap PSEL di Jakarta dijalankan dengan tata kelola yang baik dan pendekatan kolaboratif, sehingga dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap TPST Bantargebang yang saat ini sudah melebihi kapasitas.
“Jakarta membutuhkan lompatan besar dalam pengelolaan sampah. Kehadiran PSEL harus menjadi momentum mempercepat transformasi pengelolaan sampah Jakarta menuju sistem yang modern, sehat, dan berkelanjutan,” kata Fahira.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
