Teori Alumni ITB soal Mobil Mogok di Rel dan Kecelakaan KRL di Bekasi
MEDIAHUB.ID – Insiden yang melibatkan taksi listrik di perlintasan sebidang dekat Bulak Kapal, Bekasi, berujung pada rangkaian peristiwa fatal yang menimbulkan korban jiwa. Kendaraan tersebut melintang di rel dan tertemper KRL Commuter Line yang melintas.
Akibat kejadian itu, rangkaian KRL relasi Kampung Bandan-Cikarang berhenti di emplasemen Stasiun Bekasi Timur untuk proses evakuasi. Dalam kondisi berhenti, Kereta Api Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi kemudian menabrak bagian belakang KRL sekitar pukul 20.52 WIB.
Benturan keras tersebut menyebabkan kerusakan parah pada gerbong belakang KRL serta menimbulkan korban jiwa dan puluhan penumpang luka-luka.
Di tengah sorotan publik atas peristiwa itu, Adhi, alumni ITB, mengemukakan penjelasan ilmiah mengenai kaitan mobil mogok di rel dengan potensi gangguan elektromagnetik. Ia menyebut kendaraan listrik maupun kereta api sama-sama melibatkan proses konversi energi listrik menjadi energi gerak.
“Di dalam kedua kendaraan terdapat konversi energi listrik ke energi kinetik dan sebaliknya,” tulis Adhi dalam unggahan Facebook yang dikutip pada Selasa, 28 April 2026.
Menurut dia, sejumlah komponen seperti motor listrik, inverter, generator, dan stabilizer tegangan dapat memancarkan medan magnet saat beroperasi. Medan magnet tersebut, kata Adhi, dapat terakumulasi dan menginduksi benda di sekitarnya.
“Semua komponen tersebut memancarkan medan magnet yang dapat terakumulasi dan menginduksi benda di sekitarnya,” jelasnya.
Adhi juga menyebut rel kereta sebagai objek yang paling mudah terinduksi, sehingga dapat berfungsi layaknya penghantar besar medan elektromagnetik.
“Rel jadi seperti antena raksasa elektromagnetik yang menangkap dan menyebarkan induksi medan magnet,” tulisnya.
Ia menambahkan, kekuatan induksi dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari jarak terhadap sumber, frekuensi perjalanan kereta, hingga kondisi cuaca di lintasan.
Dalam kondisi tertentu, mobil yang melintasi rel disebut dapat mengalami ketidakcocokan level elektromagnetik dengan rel yang terinduksi tinggi. Situasi itu, menurut Adhi, dapat memicu lonjakan induksi yang menghasilkan emisi elektromagnetik di sekitar kendaraan.
Meski demikian, penjelasan tersebut muncul sebagai pandangan ilmiah dari sisi elektromagnetik dan tidak menggantikan proses investigasi resmi atas penyebab utama kecelakaan di Bekasi.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
