Tak Lagi Identik dengan Jamu Gendong, Ini Wajah Baru Jamu Indonesia di Tangan Generasi Muda

18 Apr 2026 • 00:38 iMedia

MEDIAHUB.ID – Jamu kini tak lagi identik dengan minuman tradisional yang disajikan secara sederhana atau dibawa dengan cara jamu gendong. Di tangan generasi muda, minuman herbal khas Indonesia itu mulai hadir dengan wajah baru yang lebih modern, tanpa meninggalkan akar budayanya.

Salah satu contohnya terlihat di Acaraki, PIK 2, Tangerang, yang menghadirkan konsep Jamu Experience Cafe. Di tempat ini, jamu tidak hanya diminum, tetapi juga dialami langsung oleh pengunjung melalui proses peracikan yang terbuka dan interaktif.

Pengunjung dapat melihat cara jamu dibuat, memahami filosofi di balik racikannya, hingga memilih bahan pendamping sesuai selera. Pendekatan ini membuat jamu terasa lebih dekat dengan generasi muda yang selama ini mungkin belum akrab dengan minuman herbal tradisional.

“Ketika pertama kali buka acaraki di tahun 2018, ya mungkin teman-teman yang sepuh yang datang. Tapi menariknya, anak-anak muda justru mengunjungi alat cafe jamu kami. Sebenarnya anak-anak muda hanya perlu dilibatkan saja,” ujar Jony.

Menurut dia, konsep Jamu Experience Cafe dibuat agar pengunjung bisa menyaksikan langsung proses pembuatan jamu, sekaligus memahami nilai budaya yang melekat di dalamnya. Dengan cara itu, jamu diharapkan tak lagi dipandang sebagai produk masa lalu yang sulit diterima selera masa kini.

“Pesannya jelas, yakni modernisasi tidak harus memutus akar. Ia justru bisa menjadi jembatan agar tradisi tetap hidup,” tambah Jony.

Inovasi juga terlihat dari menu yang ditawarkan. Jamu disajikan dengan sentuhan baru, seperti beras kencur dengan susu agar terasa lebih creamy, kunyit asam dengan es krim untuk rasa yang lebih segar, daun kelor dengan teknik penyajian ala matcha, hingga jahe yang diseduh seperti Vietnam drip.

Selain itu, pengunjung juga diberi kebebasan untuk menyesuaikan racikan sesuai preferensi masing-masing. Pendekatan ini menjadikan jamu lebih personal dan lebih mudah diterima oleh lidah generasi muda.

“Jamu itu sangat subjektif. Di sini, acaraki berperan sebagai peracik jamu. Artinya apa? Kita mencoba meracik jamu yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Kalau Anda enggak nyaman minum kunyit asam pekat, mau ditambahkan gula, silakan. Tambahkan madu, boleh. Mau tambahkan soda biar lebih segar, silakan. Kita meracik supaya bisa nyaman dulu di lidah, supaya bisa menjadi bagian dari gaya hidup,” jelas Jony.

Perubahan ini juga dirasakan pengunjung muda seperti Aurelina Prameswari (21), yang mengaku awalnya tidak terbiasa mengonsumsi jamu. Kehadiran konsep baru seperti ini membuat jamu lebih mudah dinikmati dan membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali minuman herbal tradisional Indonesia.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya