Polri Ungkap Peran WNA China dalam Kasus SMS e-Tilang Palsu
MediaHub – Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri baru-baru ini mengungkap keterlibatan warga negara asing (WNA) asal China dalam skandal SMS e-Tilang yang menggunakan nama Kejaksaan Agung (Kejagung). Langkah ini diambil setelah pihak kepolisian menetapkan lima orang tersangka terkait kasus ini.
Identifikasi Tersangka dan Rincian Operasi
Dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Bareskrim Polri Jakarta, Brigjen Pol. Himawan Bayu Aji selaku Direktur Tindak Pidana Siber mengumumkan nama-nama tersangka, antara lain WTP (29), FN (41), RW (40), BAP (38), dan RJ (29).
“Ada peran penting dari warga negara asing yang beroperasi di bawah kendali mereka,” ungkap Himawan. Tersangka WTP, FN, dan RW diindikasikan terhubung dengan dua individu dari China yang menggunakan nama akun Telegram Lee SK dan Daisy Qiu.
Pengiriman Alat dan Metode Operasional
Penyidikan lebih lanjut mengungkap bahwa alat yang dikenal dengan istilah SIM box, yang digunakan untuk SMS blasting, dikirim langsung dari China. Himawan menjelaskan bahwa ada dua pengiriman signifikan yang terjadi pada September dan Desember 2025, dengan total tujuh unit SIM box yang telah teridentifikasi.
“Barang-barang ini dikirim oleh seseorang bernama Wuga dari Shenzhen, Guangdong, China,” tambahnya. Namun, pengiriman tersebut tidak gratis; biaya awal ditanggung oleh WNA China dan dibayar melalui pemotongan komisi dari para tersangka.
Kinerja Sistem dan Imbalan Finansial
Sistem operasional yang digunakan memungkinkan tersangka untuk mengelola kartu SIM dalam SIM box, yang bisa diakses melalui aplikasi bernama Terminal Vendor System (TVS), dan dapat mengirimkan hingga 3.000 SMS phishing per hari.
BAP, salah satu tersangka, bertugas sebagai penyedia jasa aktivasi dan memperkenal WNA China, Chen Jiejie, pada Februari 2025. Sebagai kompensasi, para tersangka menerima gaji bulanan dalam bentuk cryptocurrency (USDT), dengan total imbalan bervariasi sesuai dengan kinerja mereka.
Keuntungan dan Penelusuran lebih Lanjut
Penghasilan dari aktivitas ini sangat menggiurkan, dengan BAP dilaporkan menerima sekitar Rp890.000.000,00, dan tersangka lainnya juga tidak kalah menarik. Tentu saja, semua keuntungan ini ditukarkan secara berkala ke dalam mata uang lokal.
Himawan menambahkan bahwa untuk menjalankan operasi ini, pelaku memerlukan ratusan kartu SIM yang terdaftar dengan data-identitas WNI, yang diperoleh dari RJ. Investigasi saat ini juga berlanjut untuk mengidentifikasi pengendali yang berada di China dan memastikan alamat pengiriman mereka yang sudah diketahui.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
