Pakar Ungkap Potensi Berkah Laut di Balik Kekeringan El Nino
MEDIAHUB.ID – Kekeringan yang berpotensi muncul akibat musim kemarau dan fenomena El Nino tidak hanya membawa ancaman bagi sektor daratan, tetapi juga membuka peluang bagi peningkatan produktivitas laut.
Peneliti Ahli Utama Bidang Kepakaran Oseanografi Terapan dan Manajemen Pesisir pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Pranowo, menjelaskan bahwa awal musim kemarau memicu Angin Timuran yang kuat. Angin ini mendorong massa air permukaan laut bergerak ke arah lepas pantai dan digantikan oleh air dingin dari lapisan lebih dalam yang kaya nutrien.
“Massa air yang terangkat ini membawa pupuk alami berupa nitrat dan fosfat. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis masif oleh fitoplankton. Inilah yang mendasari peningkatan produktivitas primer laut kita,” ujarnya dalam keterangan, Sabtu (16/3).
Menurut Widodo, fitoplankton diperkirakan mulai berkembang pada April-Mei 2026, meningkat pada Juni, lalu mencapai puncak pada Juli-Agustus 2026. Kondisi ini berpotensi mendorong melimpahnya ikan pelagis kecil, termasuk lemuru di Selat Bali.
Ia menambahkan, apabila El Nino 2026 benar terjadi, penguatan upwelling tidak hanya berpeluang terjadi di selatan Jawa, tetapi juga bisa meluas ke wilayah perairan Indonesia lainnya.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menyampaikan bahwa musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung pada April hingga September dengan karakteristik lebih kering dari normal. Salah satu pemicunya adalah potensi El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026.
Widodo menjelaskan, kajian riset yang ia publikasikan di Majalah Indo-Maritime pada 2014 menunjukkan bahwa upwelling di selatan Jawa memiliki karakteristik unik yang dikenal internasional sebagai RATU atau Semi-permanent Java Coastal Upwelling. Intensitasnya sangat dipengaruhi dinamika musiman dan variabilitas iklim global.
Dalam riset itu, penggunaan teknologi Argo Float, robot penyelam otomatis yang dapat beroperasi hingga kedalaman 2.000 meter, menjadi kunci dalam merekam data temperatur dan salinitas secara real-time. Data tersebut membantu memetakan daerah penangkapan ikan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa lapisan thermocline yang terangkat ke atas saat upwelling menjadi indikator penting dalam menentukan wilayah potensial bagi ikan. Riset itu juga mengidentifikasi bahwa perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara merupakan habitat krusial bagi migrasi dan pemijahan ikan ekonomis penting, termasuk Tuna Sirip Biru Selatan, cakalang, dan tuna mata besar.
Di sisi lain, El Nino tetap menyisakan risiko kekeringan panjang yang dapat mengancam ketahanan pangan dari sektor darat. Namun, dalam kondisi tertentu, potensi pasokan pangan dari laut dinilai dapat menjadi penopang.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
