1.378 Gempa Susulan Guncang Sulut dan Malut, BMKG Sebut Intensitas Mulai Mereda
MEDIAHUB.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan rangkaian gempa susulan yang mengguncang Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut) akan mereda sepenuhnya dalam dua hingga tiga pekan sejak gempa utama pada 2 April.
Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,6 itu sempat memicu tsunami kecil dengan ketinggian sekitar 1 meter. Sejak peristiwa tersebut, BMKG mencatat 1.378 gempa susulan hingga 9 April pukul 06.00 WIB. Dari jumlah itu, 25 gempa dirasakan masyarakat.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengatakan data harian menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Pada hari pertama tercatat 394 kejadian, lalu turun menjadi 91 gempa pada hari keenam dan 63 gempa pada hari ketujuh.
“Meskipun tren menunjukkan penurunan, intensitas gempa selama masa peluruhan ini bersifat fluktuatif, sehingga getaran yang dirasakan sesekali mungkin masih muncul sebelum kondisi benar-benar stabil,” kata Nelly dalam keterangannya, Kamis (9/4).
Hingga kini, tim survei gabungan BMKG dari pusat, Balai Besar MKG Wilayah IV, serta unit pelaksana teknis di Maluku Utara dan Sulawesi Utara masih memvalidasi dampak di lapangan. Survei makroseismik menunjukkan tingkat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di Kecamatan Pulau Batang Dua, sesuai peta guncangan yang diterbitkan BMKG.
Petugas juga telah memverifikasi jejak rendaman tsunami setinggi 0,5 hingga 1,5 meter di wilayah Bitung, Pulau Lembeh, Minahasa Utara, dan Minahasa Tenggara. Temuan ini dinilai membuktikan akurasi Peringatan Dini Tsunami pada status Siaga saat kejadian berlangsung.
Untuk menjamin keselamatan warga selama masa pemulihan, BMKG juga melakukan pengukuran mikrozonasi guna memetakan kerentanan tanah terhadap potensi likuefaksi dan longsor. Di saat bersamaan, sosialisasi kepada masyarakat terus digencarkan untuk menangkal informasi hoaks yang berpotensi memicu kepanikan.
“Edukasi terkait prosedur evakuasi mandiri yang benar menjadi prioritas utama tim di lapangan agar warga memiliki pemahaman mitigasi yang tepat,” ujar Nelly.
Sementara itu, Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengimbau masyarakat tetap waspada namun tidak panik. Ia meminta warga menghindari bangunan yang mengalami kerusakan struktur atau retakan signifikan karena berisiko runtuh akibat gempa susulan.
Rahmat juga mengingatkan masyarakat untuk menjauhi area lereng perbukitan yang rawan longsor akibat kondisi tanah yang belum stabil pascagempa.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
