Mendag Harap Harga Plastik Turun Bulan Ini, Pemerintah Cari Alternatif Impor Bahan Baku

14 Apr 2026 • 02:14 iMedia

MEDIAHUB.ID – Menteri Perdagangan Budi Santoso berharap harga plastik dapat turun pada April ini seiring upaya pemerintah mencari alternatif sumber impor bahan baku biji plastik atau nafta selain dari Timur Tengah.

Budi menjelaskan, selama ini pasokan nafta banyak berasal dari kawasan Timur Tengah. Namun, pengiriman terganggu akibat perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Karena itu, pemerintah kini menjajaki sumber impor baru dari India, Amerika Serikat, dan Afrika.

"Mudah-mudahan (harga plastik bisa turun bulan ini)," ujar Budi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (13/4).

Ia mengatakan, proses impor dari ketiga wilayah tersebut masih berjalan dan pemerintah menunggu ketersediaan stok di negara asal sebelum pengiriman dilakukan.

Selain itu, proses pengapalan juga diperkirakan lebih lambat akibat situasi perang di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat impor bahan baku baru belum terealisasi, sehingga produsen plastik dalam negeri masih bergantung pada stok yang ada.

Budi menambahkan, pemerintah juga terus mencari sumber alternatif lain melalui perwakilan perdagangan di berbagai negara. Indonesia, kata dia, juga harus bersaing dengan negara produsen plastik lain seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura untuk mendapatkan pasokan nafta.

"Kita terus mencari (dari) negara lain yang bisa mensuplai untuk bahan baku biji plastik," ujar Budi.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman menyebut kenaikan harga plastik menjadi persoalan serius, terutama bagi industri makanan dan minuman.

Menurut Adhi, para pelaku industri telah menerima laporan dari pemasok plastik bahwa stok bahan baku mereka mulai menipis. Kondisi ini membuat pelaku usaha kesulitan memperoleh kemasan karena pemasok telah mematok harga lebih tinggi.

"Dari beberapa pemasok ada yang bilang, terakhir bulan Mei atau Juni sudah habis (stok punya mereka). Ini yang harus dicarikan solusinya," ujar Adhi.

Ia menyebut kenaikan harga plastik bervariasi, mulai dari 30 persen hingga 60 persen, bahkan ada yang mencapai 100 persen. Berdasarkan laporan anggota GAPMMI, biaya kemasan plastik untuk produk makanan beku nyaris melonjak dua kali lipat.

Di sisi lain, pelaku industri makanan dan minuman tidak bisa serta-merta menaikkan harga produk setinggi kenaikan biaya kemasan. Jika kemasan plastik menyumbang sekitar 25 persen dari harga produk, maka kenaikan harga jual akan menjadi terlalu tinggi dan berisiko menekan penjualan.

Meski demikian, sebagian pelaku usaha disebut sudah mulai melakukan penyesuaian harga akibat naiknya biaya plastik. Adhi juga menerima laporan bahwa sejumlah komoditas seperti beras dan minyak goreng mulai mengalami kenaikan karena faktor kemasan plastik.

"Itu bukan (harga) barang yang naik, tapi kemasannya yang naik, sehingga ini terjadi kenaikan di pasar," ujar Adhi.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya