Houthi Ancam Tutup Selat Bab Al Mandab, Mengancam Lalu Lintas Perdagangan Global

31 Mar 2026 • 01:09 iMedia

MediaHub – Kelompok milisi Houthi di Yaman telah mengeluarkan ancaman untuk menutup Selat Bab Al Mandab sebagai bagian dari strategi dalam mendukung Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Wakil Menteri Informasi dari pemerintahan yang dikelola Houthi, Mohammed Mansour, menjelaskan kepada Televisi Al Araby bahwa penutupan selat tersebut mungkin dilakukan untuk memberikan tekanan kepada AS dan Israel.

“Laut Merah, Teluk Aden, dan Bab Al Mandab bisa menjadi pilihan yang kami pertimbangkan,” ungkapnya pada Sabtu, 28 Maret, yang dikutip oleh Middle East Monitor (MEMO).

Houthi kini bergabung dengan Iran dalam upaya mendukung sekutunya untuk melawan AS dan Israel. Serangan rudal yang dilancarkan oleh Houthi ke Israel pada Sabtu lalu berhasil dicegat oleh pasukan Tel Aviv, menunjukkan intensitas konflik yang semakin meningkat.

Berbagai analis telah lama memperingatkan bahwa keterlibatan Houthi dalam perang ini dapat mengganggu lalu lintas perdagangan global, terutama mengingat potensi mereka untuk memblokade Selat Bab Al Mandab.

Pentingnya Selat Bab Al Mandab

Selat Bab Al Mandab adalah jalur maritim sepanjang 32 kilometer yang menjadi satu-satunya akses laut ke Laut Merah dari Samudra Hindia, menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Mediterania melalui Terusan Suez. Pada paruh pertama tahun 2023, sekitar 12 persen dari total perdagangan minyak global melintasi selat ini. Diperkirakan, pada tahun 2025, sekitar 4,2 juta barel minyak per hari akan melewati selat tersebut.

Setiap gangguan di Selat Bab Al Mandab dapat memutus rantai penting perdagangan antara Eropa dan Asia. Dalam kasus terjadi disrupsi, kapal-kapal harus memutar melalui Afrika, mengakibatkan penundaan pengiriman yang bisa mencapai 10 hingga 14 hari.

Menurut laporan Otoritas Terusan Suez, pada tahun 2023, sekitar 26.000 kapal melintasi Terusan Suez. Namun, angka ini diperkirakan akan turun menjadi 12.700 kapal pada tahun 2025 jika Houthi terus menyerang kapal-kapal yang terkait dengan AS dan Israel di Laut Merah.

Sejak Israel melancarkan agresi di Jalur Gaza pada Oktober 2023, Houthi telah aktif melancarkan serangan rudal dan pesawat tak berawak ke arah Israel serta jalur pelayaran di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina. Selain menjadi jalur pelayaran vital, kawasan Selat Bab Al Mandab juga merupakan area dengan tingkat militerisasi tertinggi di dunia, di mana AS dan Prancis memiliki pangkalan militer utama di Djibouti, dan China juga membuka pangkalan di sana pada tahun 2017.

Kemungkinan Perkembangan di Laut Merah

Seorang pejabat militer Iran menyebutkan bahwa Teheran bisa membuka front baru di Laut Merah jika terjadi serangan militer terhadap “pulau-pulau Iran atau wilayah lain yang menjadi bagian dari kami”. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menimbulkan ancaman signifikan di Selat Bab Al Mandab, yang terletak di antara Yaman dan Djibouti.

“Jika AS memikirkan solusi untuk Selat Hormuz dengan tindakan yang tidak bijaksana, mereka harus berhati-hati agar tidak menambah masalah di selat lain,” kata pejabat tersebut, merujuk pada potensi dampak dari konflik yang sedang berlangsung.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya