Anies Kritik Wacana Penutupan Prodi yang Dianggap Tak Relevan dengan Industri
MEDIAHUB.ID – Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengkritik wacana penutupan program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri. Menurutnya, kebijakan yang terlihat efisien dalam jangka pendek justru bisa berdampak buruk bagi arah pembangunan bangsa dalam jangka panjang.
Lewat akun X miliknya, Anies menilai penting untuk memahami lebih dulu paradigma antara ilmu murni dan ilmu terapan sebelum mengambil keputusan terkait penataan program studi.
“Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini,” kata Anies, dikutip Minggu, 26 April 2026.
Anies menjelaskan, ilmu murni sering dianggap jauh dari praktik dan tidak langsung menyentuh kebutuhan industri. Namun, menurut dia, justru dari bidang inilah banyak inovasi besar lahir.
Ia menyebut teori dan rumus yang dulu dianggap abstrak telah menjadi fondasi bagi berbagai teknologi modern, mulai dari internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan.
“Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi,” ujarnya.
Anies menegaskan, penelitian dasar kerap dilakukan bukan karena permintaan pasar, melainkan dorongan untuk memahami cara kerja dunia.
Ia mengingatkan bahwa relevansi ilmu tidak selalu bisa diukur dalam waktu singkat. Menurut dia, bidang yang hari ini tampak jauh dari industri bisa saja menjadi fondasi penting di masa depan.
“Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka,” tegasnya.
Anies juga menyoroti pentingnya ilmu dasar dalam penyusunan kebijakan publik. Ia mencontohkan epidemiologi berbasis matematika dan biologi dasar yang berperan saat pandemi, ilmu lingkungan, ekologi, dan geofisika dalam menghadapi perubahan iklim dan bencana, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal.
Menurut dia, seluruh bidang tersebut berakar pada ilmu yang kerap dianggap tidak praktis.
“Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan untuk memahami dunia secara mendalam,” katanya.
Meski demikian, Anies menilai keterhubungan perguruan tinggi dengan industri tetap penting. Namun, ia menegaskan bahwa solusi yang tepat bukanlah menghapus atau melemahkan ilmu murni, melainkan membangun jembatan antara keduanya.
“Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan,” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa pendidikan tinggi bukan semata-mata untuk mencetak pekerja bagi industri, melainkan menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
“Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok,” tutur Anies.
“Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya,” pungkasnya.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
