Blunder Kebijakan Trump di Iran Dinilai Menguntungkan China dan Rusia
MEDIAHUB.ID – Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran dinilai justru memperlemah posisi Washington di mata dunia. Alih-alih meredakan ketegangan, langkah-langkah yang diambil AS disebut memperburuk situasi dan membuka peluang bagi rival-rivalnya untuk mengambil keuntungan.
Dalam pandangan sejumlah analis, operasi militer yang semula diklaim bertujuan mengubah rezim di Teheran kemudian bergeser menjadi upaya menghentikan program nuklir Iran. Namun, hingga kini pemerintah Iran masih bertahan dan struktur politik di dalam negeri tetap relatif stabil.
Profesor Hubungan Internasional Universitas Queen Mary London, Christopher Phillips, seperti dikutip Al Majalla, menilai tujuan utama Washington tidak tercapai. Bahkan, AS disebut ikut menanggung kerugian politik, ekonomi, dan strategis akibat konflik tersebut.
Di dalam negeri, keputusan Trump juga memicu kritik, termasuk dari sebagian pendukungnya. Jika gencatan senjata benar-benar terwujud, reputasi Trump dan Partai Republik dinilai sudah terlanjur terdampak, terlebih menjelang pemilihan paruh waktu. Kenaikan harga minyak dan inflasi juga dikhawatirkan menambah tekanan politik bagi pemerintahan Trump.
Secara geopolitik, situasi ini disebut mendorong sejumlah negara untuk lebih berani menantang Amerika Serikat karena menilai pengaruh Washington tidak sekuat yang selama ini dipersepsikan. Iran sendiri disebut justru tampil lebih kuat setelah konflik, terutama karena mampu menunjukkan kapasitasnya mengganggu stabilitas ekonomi global melalui ancaman terhadap Selat Hormuz.
Di sisi lain, Rusia dan China dinilai menjadi pihak yang ikut memetik manfaat. Rusia disebut diuntungkan karena harga minyak yang lebih tinggi, sementara perhatian AS terhadap Iran membuat Moskow memiliki ruang lebih besar dalam menghadapi Ukraina.
China juga disebut keluar dengan posisi yang lebih menguntungkan. Investasi Beijing di sektor energi terbarukan dinilai membantu mengurangi dampak gangguan pasokan, sekaligus memperkuat citra China sebagai mitra yang lebih stabil dibandingkan AS. Beijing bahkan disebut berperan dalam upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan di kawasan.
Dengan perkembangan itu, para analis menilai reputasi China menguat, sementara posisi Amerika Serikat justru melemah dalam percaturan geopolitik global.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
