Presiden Korsel Dorong Penghematan Energi di Tengah Krisis Global
MediaHub – Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, mengajak masyarakat untuk mengurangi waktu mandi dan durasi pengisian daya ponsel sebagai langkah menghemat energi. Dalam rapat kabinet yang diadakan pada Selasa, 24 Maret, Lee memperkenalkan 12 pedoman penghematan energi untuk mempersiapkan diri menghadapi krisis energi akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Beberapa panduan yang disarankan termasuk penggunaan transportasi umum, pengisian daya kendaraan listrik dan ponsel pada siang hari, serta membatasi penggunaan mesin cuci dan penyedot debu hanya pada akhir pekan. Ini merupakan upaya pemerintah untuk mendorong masyarakat berpartisipasi dalam penghematan energi, seperti yang dikutip dari Reuters.
Lee menekankan bahwa langkah penghematan ini juga akan diterapkan di lembaga-lembaga publik. Ia meminta lembaga negara untuk menunjukkan contoh dengan menerapkan sistem penggunaan mobil selama lima hari, agar masyarakat dapat termotivasi untuk melakukan hal yang sama. “Saya menghimbau kepada seluruh warga untuk mendukung kampanye penghematan energi dengan lebih banyak menggunakan transportasi umum,” ujarnya.
Penerapan sistem penggunaan mobil ini akan dimulai pada 25 Maret jam 00.00 waktu setempat. Sistem tersebut membatasi kendaraan penumpang berdasarkan angka terakhir pada plat nomor mereka. Sebagai contoh, kendaraan dengan plat berakhiran 1 atau 6 tidak diizinkan beroperasi pada hari Senin, sedangkan yang berakhiran 2 atau 7 dilarang melintas pada hari Selasa.
Namun, ada pengecualian untuk kendaraan yang digunakan oleh penyandang disabilitas, ibu hamil, anak kecil, serta kendaraan listrik dan hidrogen. Mobil hibrida dan kecil yang sebelumnya tidak termasuk dalam skema juga kini dikenakan aturan ini.
Menteri Energi Korsel, Kim Sung Whan, menyatakan bahwa pembatasan ini untuk sektor swasta bersifat sukarela di tahap awal, tetapi dapat ditinjau jika situasi energi semakin memburuk. “Kami akan mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk mengurangi permintaan energi, seperti kerja jarak jauh,” katanya, seperti yang dilansir dari Korea JoongAng Daily.
Sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari, situasi energi global menjadi semakin memburuk. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan serangan terhadap infrastruktur energi semakin memperparah keadaan. Korea Selatan, yang bergantung pada sekitar 70 persen pasokan minyak mentah melalui jalur tersebut, kini menghadapi ancaman terhadap pasokan energinya meskipun masih memiliki cadangan sekitar 190 juta barel.
Analis memperingatkan bahwa cadangan tersebut tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan dua bulan ke depan dengan tingkat konsumsi harian mencapai 2,9 juta barel pada 2024. Meskipun pemerintah Korsel telah mendapatkan jaminan pasokan 24 juta barel minyak dari Uni Emirat Arab, ketidakpastian tetap menghantui kapan pengiriman akan dilakukan.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
