Presiden Prabowo: Pentingnya Kejujuran dalam Laporan Pemerintahan

19 Mar 2026 • 14:40 iMedia

MediaHub – Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, pada Selasa (17/03/2026), Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah jurnalis senior dan pengamat untuk berdiskusi. Pertemuan ini juga menjadi ajang bagi Presiden untuk menanggapi berbagai pertanyaan, termasuk dari Pemimpin Redaksi SCTV Indosiar, Retno Pinasti, terkait laporan-laporan yang tidak akurat.

Presiden Prabowo menyatakan bahwa kejujuran dalam laporan pemerintahan merupakan hal yang sangat penting. Ia memberikan peringatan tegas kepada semua jajaran kementerian untuk tidak lagi menyusun laporan yang bersifat menyesatkan atau sekadar untuk menyenangkan atasan.

Dalam penjelasannya, Presiden menyoroti adanya budaya laporan yang dikenal sebagai “asal bapak senang” (ABS) yang masih merajalela di berbagai institusi. Menurutnya, praktik tersebut berpotensi menimbulkan kesalahan fatal dalam pengambilan keputusan.

“Salah informasi bisa mengarah pada keputusan yang tidak tepat. Ini dapat berdampak pada prioritas yang keliru dan alokasi sumber daya yang tidak efisien, yang jelas berbahaya,” ungkapnya.

Presiden juga menekankan bahwa seorang pemimpin harus siap menerima laporan bahkan yang tidak menyenangkan. Ia mengaku selalu memantau kritik-kritik yang datang, baik dari media sosial maupun pemberitaan.

“Walaupun menyakitkan, saya tetap menyaksikan segala bentuk kritik itu. Hal ini membuat saya lebih waspada,” tambahnya.

Sebagai tindak lanjut, Presiden menyatakan bahwa ia secara rutin melakukan pengecekan lapangan dan cross-check laporan yang diterima. Ia juga mengaku mengirim tim untuk memverifikasi kondisi di tempat.

Dalam satu contoh nyata, Presiden menginformasikan bahwa lebih dari 1.000 dapur program telah ditutup karena tidak memenuhi standar keamanan dan kebersihan. Pemerintah kini menerapkan sistem sertifikasi yang lebih ketat di bidang ini.

“Jika tidak sesuai standar, langsung kita suspend. Kita amat serius dalam hal ini,” tegasnya.

Pemerintah juga membuka saluran pengaduan untuk masyarakat, termasuk melalui nomor telepon gratis. Warga diizinkan untuk langsung memeriksa kondisi di lapangan dan menyampaikan keluhan.

Presiden mengakui bahwa laporan yang terlalu manis sering kali muncul karena niat baik dari bawahan yang tidak ingin menyusahkan pimpinan. Namun, ia berpendapat bahwa hal ini dapat berakibat fatal di kemudian hari.

“Meskipun niatnya baik, dampaknya bisa sangat buruk,” ujarnya.

Presiden menegaskan perlunya perubahan dalam budaya kerja untuk menjadi lebih transparan dan berani menghadapi realita, meskipun terkadang pahit.

“Kita harus berani menerima kenyataan, meskipun itu tidak menyenangkan. Kita harus siap dikritik, bahkan siap dimaki, itu bukan masalah,” tambahnya.

Selain itu, Presiden juga menekankan pentingnya kritik yang konstruktif. Ia menjelaskan bahwa kritik yang berdasarkan fakta sangat bermanfaat bagi pemerintah, tetapi harus dihindari kritik yang dilandasi niat buruk atau kebencian.

“Kritik yang berbasis fakta itu bagus. Namun, jika tujuannya hanya untuk memecah belah atau menimbulkan kebencian, itu tidak baik,” ujarnya.

Di akhir diskusi, Presiden membagikan filosofi kepemimpinannya: “Jika bisa membantu banyak orang, lakukanlah. Jika tidak bisa, bantu beberapa orang. Jika tidak bisa juga, bantu satu orang. Namun jika satu orang pun tidak bisa dibantu, janganlah membuat orang lain kesusahan.” Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk menciptakan budaya kerja yang jujur, transparan, dan berorientasi pada solusi yang nyata.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya