Pengembangan DME dan CNG Dinilai Bisa Kurangi Ketergantungan Impor LPG

27 Apr 2026 • 22:35 iMedia

MEDIAHUB.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kebutuhan LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 1,6 juta hingga 1,7 juta ton.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia masih bergantung pada impor LPG dalam jumlah besar, yakni sekitar 7 juta ton per tahun.

Untuk mengurangi ketergantungan itu, pemerintah tengah mematangkan sejumlah opsi substitusi energi. Kajian dilakukan secara intensif untuk mencari formulasi terbaik dalam menekan beban impor LPG.

“Untuk LPG ini kita putar otak terus. Hampir tiap malam tidak kita istirahat, kita mengkaji sumber-sumber LPG-nya,” kata Bahlil usai menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin, 27 April 2026.

Salah satu opsi yang didorong adalah pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara kalori rendah melalui hilirisasi. Menurut Bahlil, DME dapat menjadi substitusi LPG dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

“Kalau DME itu dari batu bara low calorie, kemudian dia dilakukan hilirisasi, dan dia menjadi substitusi pengganti daripada LPG,” ujarnya.

Selain DME, pemerintah juga mempertimbangkan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) yang berbasis gas dengan kandungan C1 dan C2, yang disebut cukup melimpah di dalam negeri.

“Nah, alternatif ketiga, sekarang lagi masih dalam pembahasan adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi,” kata Bahlil.

Ia menjelaskan, pemanfaatan CNG membutuhkan teknologi kompresi bertekanan tinggi, sekitar 250 hingga 400 bar, agar bisa digunakan secara optimal oleh masyarakat.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya