Said Didu Duga Ada Kepentingan Politik di Balik Pelaporan Jusuf Kalla

Pelaporan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla ke Polda Metro Jaya oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama sejumlah organisasi memunculkan polemik baru di ruang publik.

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu menduga ada aktor politik di balik langkah tersebut. Ia bahkan menyebut dugaan keterkaitan itu dengan istilah “Geng Solo”, yang menurutnya merujuk pada lingkaran dekat Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

“Sepertinya Geng Solo mau coba-coba jualan SARA dengan menyerang Pak JK dengan memotong-motong ceramah,” ujarnya melalui akun X, Selasa, 14 April 2026.

Said Didu juga mengingatkan agar isu suku, agama, ras, dan antargolongan tidak dijadikan alat politik. Menurut dia, penggunaan isu SARA dalam konteks tersebut berbahaya dan berpotensi memecah belah.

“Sekadar mengingatkan, jangan coba-coba main api dengan SARA,” tegasnya.

Ia turut menyoroti latar belakang para pelapor yang menurutnya memiliki kedekatan dengan relawan pendukung Jokowi. Said Didu menyebut, pelapor terhadap Jusuf Kalla merupakan sosok yang pernah aktif mendorong Jokowi maju tiga periode dan kini disebut berada di struktur inti Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Lebih lanjut, Said Didu menilai pernyataan Jusuf Kalla yang kini dipersoalkan sebenarnya telah disampaikan sejak lama dan tidak pernah menjadi masalah. Karena itu, ia mempertanyakan alasan isu tersebut kembali diangkat belakangan ini.

“Kenapa setelah Pak JK minta Jokowi tunjukkan ijazah asli, kok Geng Solo ngamuk?” ujarnya.

Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi perhatian publik dan memunculkan berbagai spekulasi terkait latar belakang pelaporan Jusuf Kalla.

Sumber: RMOL

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya