Dari Janji Menghentikan Perang hingga Tuduhan Menghancurkan Peradaban, Trump Dikecam Loyalis MAGA

10 Apr 2026 • 06:38 iMedia

MEDIAHUB.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menuai sorotan setelah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dua minggu dengan Iran hanya sekitar satu setengah jam sebelum batas waktu ultimatum yang ia tetapkan sendiri pada 7 April 2026. Langkah itu muncul setelah sebelumnya Trump melontarkan ancaman keras melalui Truth Social, termasuk pernyataan bahwa ia akan membiarkan peradaban Iran musnah.

Perubahan sikap yang sangat cepat tersebut memicu kritik dari berbagai kalangan, termasuk dari pendukung setianya di gerakan MAGA. Padahal, dalam kampanye 2024, Trump berulang kali menegaskan bahwa ia tidak akan menyeret Amerika Serikat ke perang luar negeri baru dan menjadikan penghentian perang sebagai salah satu janji utama politiknya.

Namun, situasi berubah setelah pada 28 Februari 2026, Trump bersama Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Serangan itu disebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, dan memicu perang tanpa otorisasi Kongres. Trump kemudian mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran, termasuk pernyataan yang menyebut seluruh peradaban akan hancur.

Ucapan tersebut memancing reaksi keras dari sejumlah tokoh konservatif yang selama ini dikenal dekat dengan Trump. Laura Loomer menilai langkah gencatan senjata membuat Amerika keluar dengan tangan hampa. Marjorie Taylor Greene, mantan anggota Kongres dari Partai Republik, bahkan menyebut pernyataan Trump menunjukkan ketidakstabilan serius dan menyerukan penerapan Amandemen ke-25 untuk menyingkirkannya dari Gedung Putih.

Tucker Carlson juga mengecam keras pernyataan Trump, menyebutnya menjijikkan dan menilai pemboman infrastruktur sipil Iran sebagai kejahatan perang. Ia bahkan menyerukan agar staf Gedung Putih dan militer AS menolak menjalankan perintah serangan. Sementara itu, Candace Owens menyebut Trump sebagai maniak genosida, dan Alex Jones menilai sang presiden menunjukkan tanda-tanda masalah serius sehingga layak dicopot.

Kritik utama terhadap Trump tidak hanya datang dari isi pernyataannya, tetapi juga dari dasar konstitusional kebijakan itu. Konstitusi Amerika Serikat menegaskan bahwa kewenangan menyatakan perang berada di tangan Kongres, bukan presiden. Karena itu, serangan besar-besaran terhadap Iran tanpa otorisasi Kongres dinilai melanggar prinsip pembatasan kekuasaan eksekutif.

Bagi sebagian loyalis MAGA, langkah Trump dianggap bertentangan dengan slogan America First yang selama ini menjadi fondasi dukungan politiknya. Mereka menilai kebijakan itu lebih menguntungkan Israel daripada kepentingan Amerika Serikat sendiri, sekaligus berisiko membebani rakyat Amerika dengan konsekuensi ekonomi dan geopolitik yang besar.

Dengan semakin kerasnya kritik dari tokoh-tokoh inti MAGA, posisi Trump kini dinilai kian tertekan. Dari janji menghentikan perang hingga tuduhan mengorbankan prinsip America First, kebijakan luar negeri Trump kembali menjadi sumber perpecahan besar di tubuh basis pendukungnya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya