Perang AS-Iran Picu Tekanan Ekonomi, Posisi Trump Tergerus
MEDIAHUB.ID – Perang yang berlangsung sekitar tujuh minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum berhasil mencapai tujuan utama Presiden AS Donald Trump, yakni menekan penuh pemerintahan di Teheran.
Alih-alih memperlihatkan dominasi, konflik terbuka itu justru memunculkan titik lemah AS, terutama dari sisi tekanan ekonomi domestik yang semakin besar.
Meski Iran telah membuka kembali Selat Hormuz, dampak perang terlanjur meluas. Harga energi melonjak, inflasi meningkat, dan kekhawatiran terhadap resesi global mulai menguat. Situasi ini mendorong Trump menggeser pendekatan dari jalur militer ke diplomasi, seiring tekanan ekonomi di dalam negeri yang makin sulit diabaikan.
Sejumlah pengamat menilai Iran berhasil memanfaatkan kondisi tersebut untuk menekan balik AS. Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri di era Barack Obama, menyebut tekanan ekonomi sebagai titik lemah utama Trump.
“Trump merasakan tekanan ekonomi, dan itu adalah titik lemahnya dalam perang ini,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Sabtu, 18 April 2026.
Kekhawatiran serupa juga datang dari kalangan analis kebijakan luar negeri. Gregory Poling dari Center for Strategic and International Studies menilai konflik ini menunjukkan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan pemerintah AS.
“Perang ini menunjukkan pemerintah bisa bertindak tidak terduga tanpa banyak mempertimbangkan konsekuensi,” katanya.
Dari dalam negeri, tekanan politik terhadap Trump turut menguat. Chuck Coughlin menilai penolakan terhadap kebijakan itu mulai meluas, termasuk dari sebagian basis pendukungnya sendiri.
“Sebagian masyarakat, termasuk pendukungnya, mulai menentang kebijakan ini. Dan pada akhirnya, ada harga yang harus dibayar,” ujarnya.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
