Kisah ‘Pemain Inti’ Jakarta Saat Lebaran: Pengorbanan di Tengah Kesunyian
MediaHub – Setiap tahun, Jakarta mengungkapkan dua wajah yang kontras saat perayaan Lebaran. Di satu sisi, jalan-jalan yang biasanya macet mendadak lengang. Suara klakson yang kerap menggema seolah menghilang, sementara gedung-gedung perkantoran terlihat sepi, seakan ditinggalkan oleh para pekerjanya. Namun, di sisi lain, kehidupan tetap berjalan, dijaga oleh segelintir orang yang memilih untuk tetap tinggal di ibu kota.
Di media sosial, istilah ‘Jakarta tinggal pemain inti’ muncul, menciptakan nuansa humor namun menyimpan cerita yang dalam tentang tanggung jawab dan pilihan hidup. Istilah ini merujuk pada mereka yang memilih tetap bekerja saat banyak orang mudik, memastikan layanan penting tetap berjalan.
Salah satu di antara mereka adalah Dasman, seorang sopir bus TransJakarta asal Padang. Ia memulai hari Lebarannya dari balik kemudinya, meski di luar sana, banyak yang bersiap untuk pulang kampung. Rute 1H yang dijalankannya, menghubungkan Tanah Abang hingga Stasiun Gondangdia, seakan menjadi saksi bisu perjalanan Lebaran yang berbeda bagi Dasman.
Ini adalah tahun kedua bagi Dasman untuk tidak pulang saat Lebaran. Dengan bijaksana ia memilih untuk tetap bekerja, karena ia yakin upah lembur yang didapatkan lebih bermanfaat ketimbang biaya pulang yang harus dikeluarkan. “Yang penting keluarga di rumah bisa Lebaran dengan tenang,” ujarnya, menandakan keikhlasan yang mendalam.
Di sisi lain Jakarta, Anwar, seorang pemuda asal Cianjur, menjalani Lebaran di belakang meja kasir sebuah minimarket. Sudah tiga tahun ia menghabiskan momen Lebaran di Jakarta, jauh dari keramaian takbiran yang pernah ia nikmati bersama teman-teman. Aktivitas di minimarket menjadi prioritasnya, dan pilihan untuk pulang setelah Lebaran usai menjadi strateginya untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Dengan penuh kesadaran, Anwar menunda kerinduan demi masa depan yang lebih baik bagi keluarganya. Setiap barang yang ia pindai, menjadi bagian dari usaha menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang tercintanya di rumah.
Sementara itu, di Masjid Istiqlal, Abi menjalani Lebaran dengan peran yang mulia. Sebagai petugas zakat, ia memastikan setiap donasi yang diterima bisa disalurkan kepada yang membutuhkan tepat waktu sebelum salat Id dilaksanakan. Kendati tidak memiliki waktu untuk pulang, ia merasa pekerjaannya adalah bagian dari ibadah, memberikan manfaat bagi orang lain dan menjadi sumber rezeki bagi keluarganya.
Dalam kesunyian yang menyelimuti Jakarta, di tengah momen perayaan, ada kisah-kisah penuh makna yang bersemayam di dalamnya. Mereka adalah ‘pemain inti’ yang dengan tulus mengorbankan waktu bersama keluarga demi menjadikan Lebaran lebih berarti bagi orang-orang yang ia cintai.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
