Webinar AMEC Bahas Geopolitik Timur Tengah, Palestina dan Iran di Tengah Krisis

14 May 2026 • 02:01 iMedia

MEDIAHUB.ID – Asia Middle East for Research and Dialogue (AMEC) menyoroti kompleksitas krisis geopolitik di Timur Tengah dalam webinar internasional bertajuk Understanding Contemporary Middle East Dynamics: Israeli Colonialism in Palestine, Gulf Strategic Policies, and Iran’s Nuclear Trajectory, Rabu, 13 Mei 2026.

Webinar yang dibuka Direktur Eksekutif AMEC Dr. Muslim Imran itu dihadiri sekitar 30 peserta, sebagian di antaranya berasal dari Malaysia. Acara tersebut dimoderatori alumni Cambridge University, Mumtaza Chairannisa.

Empat pembicara hadir dalam forum itu, yakni Peneliti BRIN Prof. M. Hamdan Basyar, Duta Besar RI untuk Iran dan Turkmenistan periode 2012-2026 Dian Wirengjurit, peneliti AMEC Pizaro Gozali Idrus, dan Co-Founder Asia West-East Centre (AsiaWE) Malaysia Abdolreza Alami.

Dalam pemaparannya, Prof. Hamdan menyoroti masa depan Palestina yang kian terjepit dalam skema politik internasional, terutama terkait rencana pengelolaan Gaza di bawah Board of Peace. Menurut dia, mekanisme itu justru memperkuat ketergantungan Palestina pada kekuatan eksternal.

“Jalan menuju kemerdekaan Palestina-yang diakui sebagai sebuah ‘aspirasi’-dibuat sangat bersyarat, bergantung pada penilaian subjektif kekuatan-kekuatan luar,” ujarnya dalam rilis yang dibagikan.

Sementara itu, Dubes Dian Wirengjurit membandingkan posisi Israel dan Iran dalam lanskap konflik regional yang semakin tidak seimbang. Ia menyebut Israel mengklaim tindakan militernya bersifat defensif untuk mempertahankan diri, namun dalam praktiknya kerap terlibat dalam berbagai operasi militer aktif.

Di sisi lain, Iran dinilai lebih banyak bergerak secara tidak langsung melalui jaringan tertentu, sehingga klaim defensif Israel tersebut patut dipertanyakan.

“Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan kritis mengenai apakah perilaku militer Israel benar-benar mencerminkan kebutuhan defensif, atau justru mencerminkan agenda yang jauh lebih luas dan melampaui sekadar upaya mempertahankan diri,” kata Dian.

Peneliti AMEC, Pizaro Gozali Idrus, menilai negara-negara Arab kini mulai mencari ruang manuver yang lebih independen melalui normalisasi hubungan dengan Iran dan upaya rekonsiliasi regional. Namun, menurut dia, tekanan Amerika Serikat serta terbatasnya aktor penjamin keamanan global membuat transisi tersebut tidak mudah.

“Tiongkok dan Rusia belum menunjukkan kemauan atau kemampuan untuk bertindak sebagai penjamin keamanan militer di Teluk, menggantikan Amerika Serikat jika terjadi konflik terbuka,” ungkapnya.

Sementara itu, Abdolreza Alami menegaskan berbagai prediksi mengenai melemahnya Iran tidak terbukti di lapangan. Ia menyebut jaringan regional yang melibatkan Iran masih bertahan, didukung posisi geografis strategis dan kemampuan militer yang dinilainya tetap solid menghadapi tekanan eksternal.

“Iran memiliki posisi geografi yang menguntungkan, kekuatan senjata yang menjadi daya penggetar musuh serta memiliki jaringan perdagangan multi jalur tidak hanya laut tetapi juga darat,” pungkasnya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya