Trump Tak Puas dengan Proposal Damai Iran, Klaim Teheran Sedang Krisis Kepemimpinan

29 Apr 2026 • 23:50 iMedia

MEDIAHUB.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut belum puas dengan proposal damai yang diajukan Iran terkait konflik yang sedang berlangsung. Menurut seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal di Gedung Putih, Trump menginginkan isu program nuklir dibahas sejak awal, bukan ditunda ke tahap akhir negosiasi.

Proposal terbaru dari Iran disebut mengusulkan agar pembahasan mengenai program nuklir ditunda hingga perang berakhir dan sengketa pelayaran di kawasan Teluk terselesaikan. Namun, Washington menilai pendekatan itu belum cukup menjawab pokok persoalan.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump juga menyinggung kondisi Iran saat ini. Ia mengklaim Teheran sedang berada dalam situasi kritis dan menyebut adanya persoalan kepemimpinan di dalam negeri.

“Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam ‘Keadaan Keruntuhan’. Mereka ingin kami ‘Membuka Selat Hormuz’ secepat mungkin, karena mereka mencoba menyelesaikan masalah kepemimpinan mereka (yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!),” tulis Trump, dikutip dari Reuters, Rabu 29 April 2026.

Hingga kini, belum jelas bagaimana Iran menyampaikan pesan tersebut. Pemerintah Iran juga belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Trump.

Di sisi lain, seorang juru bicara militer Iran mengatakan kepada media pemerintah bahwa Republik Islam tidak menganggap perang telah berakhir. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, Iran disebut membatasi sebagian besar lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global, kecuali untuk pengiriman miliknya sendiri. Pada bulan ini, Amerika Serikat juga mulai memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran.

Upaya menghidupkan kembali proses perdamaian disebut semakin sulit setelah rencana kunjungan utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, ke Pakistan dibatalkan pada akhir pekan lalu. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi justru melakukan perjalanan bolak-balik ke Islamabad untuk membawa proposal perdamaian tersebut.

Situasi politik di Iran turut memengaruhi arah negosiasi. Setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari pertama perang, posisi tersebut digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang dilaporkan mengalami luka. Sejumlah pejabat Iran dan analis menilai perubahan ini membuat komandan garis keras dari Islamic Revolutionary Guard Corps memiliki pengaruh lebih besar, sehingga posisi Iran dalam perundingan menjadi semakin keras.

Dalam proposal yang diajukan Iran, pembicaraan dirancang berlangsung bertahap. Tahap awal mencakup penghentian perang dan jaminan bahwa Amerika Serikat tidak akan memulai kembali konflik. Setelah itu, barulah dibahas penghentian blokade laut oleh Angkatan Laut AS serta pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah kendali Iran. Isu lain seperti program nuklir dan hak pengayaan uranium akan dibahas setelah tahap awal selesai.

Di tengah kebuntuan negosiasi, dampak perang juga mulai dirasakan di pasar energi global. Harga minyak kembali naik, dengan minyak mentah Brent meningkat hampir 3 persen menjadi sekitar 111 dolar AS per barel. Bank Dunia memperkirakan harga energi dapat melonjak hingga 24 persen pada 2026 jika gangguan akibat perang terus berlanjut.

Konflik ini juga memicu ketegangan di antara negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan memutuskan keluar dari kelompok OPEC dan OPEC+, menandakan adanya perbedaan sikap terhadap situasi yang berkembang di Iran.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya