Banyak Pilot Khawatir Dipecat karena Menolak Terbang ke Timur Tengah

12 Apr 2026 • 13:47 iMedia

MEDIAHUB.ID – Para pilot maskapai yang melintasi kawasan Timur Tengah kian cemas terhadap nasib pekerjaan mereka saat menolak terbang dengan alasan keselamatan terkait konflik di Iran.

Presiden International Federation of Air Line Pilot’s Associations (IFALPA), Ron Hay, mengatakan para penerbang di berbagai negara menyuarakan kekhawatiran yang meluas soal kemungkinan sanksi dari maskapai, mulai dari kehilangan gaji hingga pemecatan.

Pilot dari sejumlah negara, termasuk Lebanon hingga India, disebut khawatir akan mendapat balasan dari perusahaan jika menolak terbang dalam situasi yang dinilai tidak menentu. Wilayah udara dapat tiba-tiba ditutup akibat serangan rudal atau drone.

“Ada ketakutan mendasar akan pembalasan,” kata Hay, menyoroti posisi sulit yang dihadapi banyak pilot.

Kekhawatiran itu muncul saat sejumlah maskapai di Timur Tengah tetap melanjutkan operasional penerbangan, meski gencatan senjata terbaru dan ancaman serangan di kawasan tersebut masih terus berlangsung.

Hay, yang juga kapten Delta Air Lines, mengatakan sebagian pilot khawatir dipecat. Sementara bagi lainnya, risikonya bukan kehilangan pekerjaan, tetapi tidak memperoleh penghasilan.

Ia tidak menyebut nama maskapai yang dimaksud, namun menilai kondisi tersebut menunjukkan maskapai tidak menjalankan budaya keselamatan yang baik dan belum memberi ruang bagi pilot untuk menyampaikan keberatan.

“Hal itu telah kurang di kawasan Timur Tengah selama beberapa waktu dan diperparah oleh konflik ini,” ujarnya seperti dikutip The Independent, Jumat (10/4).

IFALPA yang berbasis di Montreal memiliki asosiasi anggota di Bahrain, Mesir, Israel, Kuwait, dan Lebanon, menurut situs resminya. Namun, organisasi itu tidak mencantumkan anggota dari maskapai besar di Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Qatar, yang tidak tergabung dalam serikat pekerja.

Di sisi lain, maskapai di Timur Tengah menegaskan bahwa keselamatan tetap menjadi prioritas. Penerbangan ke dan dari Uni Emirat Arab serta Qatar disebut tetap berjalan melalui koridor khusus yang ditetapkan bersama regulator.

Setelah gencatan senjata diumumkan, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa memperpanjang larangan bagi maskapai Eropa untuk terbang di wilayah udara beberapa negara Teluk, termasuk UEA dan Qatar, hingga 24 April.

Meski demikian, maskapai yang berbasis di Dubai dan Doha masih tetap beroperasi, demikian pula sejumlah maskapai India.

Kekhawatiran para pilot yang bertugas di kawasan Timur Tengah mendorong IFALPA menerbitkan makalah yang menegaskan bahwa pilot harus memiliki hak suara yang tidak dapat dinegosiasikan terkait keselamatan.

“Ada kekhawatiran mendalam di wilayah tersebut, yang menjadi salah satu alasan makalah ini dibuat,” kata Hay.

Dalam buletinnya, IFALPA juga menyebut personel yang terlibat dalam operasi penerbangan sipil di dalam atau dekat zona konflik dapat mengalami tingkat stres, kecemasan, dan kelelahan yang lebih tinggi, baik di darat maupun di udara.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya