Permintaan Chip AI Dongkrak Saham Intel hingga 24 Persen

25 Apr 2026 • 16:42 iMedia

MEDIAHUB.ID – Saham Intel melonjak tajam setelah perusahaan itu melaporkan meningkatnya permintaan chip untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI). Kenaikan ini dinilai menjadi sinyal bahwa peran prosesor utama atau CPU kembali menguat di tengah berkembangnya pasar AI.

Mengutip Reuters, Sabtu 25 April 2026, pada perdagangan awal Jumat waktu Amerika Serikat, saham Intel sempat naik lebih dari 24 persen ke level sekitar 83 dolar AS. Kenaikan itu bahkan melampaui rekor tertinggi sebelumnya pada era gelembung dot-com tahun 2000, sekaligus mendorong kapitalisasi pasar perusahaan menembus sekitar 416 miliar dolar AS.

Lonjakan saham tersebut dipicu oleh kuatnya permintaan dari perusahaan penyedia layanan AI, terutama pada kuartal pertama 2026. Intel juga disebut berhasil menjual chip lama yang sebelumnya diperkirakan tidak akan terserap pasar. Kondisi ini menunjukkan perubahan signifikan dalam dinamika industri semikonduktor.

Tak hanya Intel, saham pesaing seperti AMD dan Arm Holdings juga ikut naik lebih dari 11 persen. Pergerakan ini dipengaruhi meningkatnya keyakinan bahwa proses inferensi AI, yakni tahap ketika AI menjawab pertanyaan pengguna, lebih banyak memerlukan CPU dibandingkan hanya GPU.

Selama ini, pasar AI didominasi Nvidia yang fokus pada chip grafis atau GPU untuk melatih model AI. Namun, perubahan tren tersebut membuat persaingan semakin ketat. Nvidia pun mulai masuk ke pasar CPU dengan meluncurkan produk baru.

Kinerja Intel yang melampaui perkiraan membuat sejumlah analis menaikkan target harga saham perusahaan. Saat ini, target harga median saham Intel naik menjadi sekitar 75 dolar AS, dari sebelumnya 46,50 dolar AS.

Chief Financial Officer Intel, David Zinsner, mengatakan peningkatan penjualan juga didorong oleh harga yang lebih tinggi serta pasokan yang terbatas. Situasi itu membuat Intel bisa menjual stok lama yang sebelumnya diperkirakan tidak akan laku.

“Produk yang terjual termasuk chip lama atau yang tidak sesuai spesifikasi, dan itu sangat membantu kinerja kami,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, pemulihan Intel turut ditopang strategi bisnis baru dan investasi besar. Di bawah kepemimpinan CEO Lip-Bu Tan, perusahaan berupaya bangkit setelah beberapa tahun tertinggal dari para pesaing.

Sejak awal 2026, saham Intel sudah menguat lebih dari 120 persen, setelah sebelumnya juga naik sekitar 84 persen pada 2025. Meski demikian, valuasi saham perusahaan kini dinilai cukup tinggi dibandingkan para pesaingnya.

Intel juga mendapat dorongan setelah berhasil menarik Tesla sebagai pelanggan untuk teknologi chip generasi berikutnya. Langkah ini menjadi penting dalam ambisi Intel memperkuat bisnis manufaktur chip.

Analis TECHnalysis Research, Bob O’Donnell, menilai pemulihan Intel akan benar-benar dianggap berhasil jika bisnis manufaktur chip perusahaan mulai memberikan kontribusi besar pada 2027.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya