MBS Tekan AS Cabut Blokade Selat Hormuz, Saudi Khawatir Pembalasan Iran

16 Apr 2026 • 14:47 iMedia

MEDIAHUB.ID – Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan menekan Amerika Serikat agar mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Langkah itu disebut dilakukan karena Riyadh khawatir Iran akan membalas dengan memblokade Laut Merah, yang berpotensi mengganggu ekonomi Arab Saudi.

Laporan tersebut dimuat The Telegraph pada Rabu (15/4/2026), dengan mengutip sejumlah diplomat Teluk. Dalam laporan itu disebutkan, Arab Saudi juga mendesak Washington untuk mengurangi eskalasi perang di Timur Tengah.

Para diplomat Teluk mengatakan MBS ingin Presiden AS Donald Trump kembali ke jalur negosiasi. Kekhawatiran Riyadh muncul karena Teheran dinilai bisa membalas tekanan AS dengan menggerakkan sekutunya, Houthi di Yaman, untuk menutup Selat Bab al-Mandeb di Laut Merah.

Selat tersebut merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak Arab Saudi. Jika akses itu terganggu, pengaruhnya bisa langsung terasa pada arus ekspor dan stabilitas pasar energi global.

Pergeseran sikap Arab Saudi ini disebut berbeda dengan posisi keras yang sebelumnya ditunjukkan sejumlah negara Teluk terhadap Iran. Sejak serangan udara AS pada Juni tahun lalu terhadap fasilitas nuklir Iran, MBS dilaporkan mulai melihat bahwa Teheran hanya akan semakin kuat jika tidak dikalahkan di medan perang.

Namun, kekhawatiran Riyadh juga dipengaruhi faktor geografis. Arab Saudi memiliki dua jalur pantai, yakni Teluk Persia dan Laut Merah, sehingga masih memiliki opsi untuk mengalihkan sebagian ekspor minyak jika Selat Hormuz diblokade.

Ekspor minyak mentah dari Arab Saudi dilaporkan mendekati level sebelum perang, sekitar 7 juta barel per hari. Kondisi itu membantu menjaga stabilitas harga minyak dan menahan dampak yang lebih besar dibandingkan negara-negara Teluk lain seperti Qatar dan Kuwait.

Meski demikian, ketahanan itu bisa terganggu bila Houthi kembali menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah atau mencoba menguasai Bab al-Mandeb. Satu serangan saja dinilai cukup untuk membuat pemilik kapal ragu mengirim tanker ke Yanbu, pelabuhan penting Arab Saudi di Laut Merah.

Sejumlah analis menilai Houthi masih memiliki kemampuan untuk melancarkan gangguan maritim, meski kapasitas tempur mereka telah menurun akibat serangan udara AS dan Inggris. Di sisi lain, serangan Israel juga disebut telah melemahkan kepemimpinan kelompok tersebut.

Para pejabat Teluk menilai kebijakan Arab Saudi terhadap Iran kini cenderung lebih berhati-hati. Mereka menyebut Riyadh ingin menghindari eskalasi baru yang bisa memicu gangguan berantai di kawasan, terutama pada jalur distribusi energi.

Dalam pandangan para pejabat tersebut, Arab Saudi masih mampu menahan satu bentuk tekanan, tetapi tidak ingin menghadapi ancaman berlapis yang bisa berdampak jauh lebih besar terhadap ekonomi dan keamanan regional.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya