Usulan Pindah Gerbong Wanita, Menteri PPPA Arifah Fauzi Tuai Kritik Publik

28 Apr 2026 • 22:32 iMedia

MEDIAHUB.ID – Usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi terkait penempatan gerbong khusus wanita di tengah rangkaian kereta menuai kritik dari publik. Pernyataan itu muncul usai tragedi yang melibatkan KRL jurusan Cikarang nomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.

Dalam keterangannya kepada media, Arifah menyebut penempatan gerbong khusus wanita di tengah rangkaian diusulkan agar tidak terjadi rebutan posisi, sekaligus untuk alasan keselamatan saat terjadi benturan.

"Kalau tadi kita ngobrol dengan KAI, kenapa ditaruh di paling depan atau paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ujar Arifah.

Ia menjelaskan, skema tersebut dimaksudkan agar penumpang laki-laki berada di bagian paling depan dan belakang sebagai pelindung jika terjadi insiden kecelakaan.

"Jadi yang laki-laki di ujung, yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah," katanya.

Namun, pernyataan itu justru memicu reaksi keras di media sosial. Sejumlah warganet menilai usulan tersebut tidak mempertimbangkan aspek operasional kereta maupun sensitivitas gender dalam kebijakan keselamatan publik.

Salah satu akun, @hadiologi, mempertanyakan logika penempatan gerbong khusus wanita di tengah rangkaian. Menurut akun tersebut, kebijakan yang selama ini diterapkan KAI menempatkan gerbong wanita di ujung rangkaian justru lebih mudah secara operasional dan pengamanan.

"Bu menteri kok pemikirannya begitu ya bu? Setahu saya, kebijakan KAI memasang gerbong wanita di ujung rangkaian itu untuk memudahkan operasional dan pengamanan, dan kalau ditaruh di tengah rangkaian akan menyulitkan penyusunan karena rangkaian ada yang 8, 10, dan 12 gerbong," tulis akun itu.

Kritik juga muncul karena usulan tersebut dinilai memberi kesan bahwa keselamatan penumpang laki-laki bisa ditempatkan sebagai penyangga di bagian luar rangkaian.

"Dan lagipula, pemikiran Bu Arifah ini seolah ‘melegitimasi’ pemikiran ‘Enggak apa-apa kalau cowok yang jadi korban kecelakaan, itu risiko cowok karena gerbongnya di ujung rangkaian’," lanjut akun tersebut.

Sentimen serupa disampaikan pengguna media sosial lain yang menilai pernyataan Arifah tidak sesuai dengan kondisi di lapangan dan pengalaman penumpang commuter line.

"Ibu menteri saya yakin enggak pernah naik KRL juga, jadi buat apa dianalisa ocehan beliau sebenarnya. Tapi saya juga gregetan lihatnya," tulis salah satu warganet.

Hingga kini, pernyataan Arifah masih menjadi perbincangan hangat dan memantik diskusi luas mengenai keselamatan penumpang, penataan gerbong, serta kebijakan transportasi publik yang sensitif terhadap isu gender.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya