Prospek Rupiah Masih Rentan, Ini Skenario Pergerakannya ke Depan

14 Apr 2026 • 02:15 iMedia

JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian global yang belum mereda, terutama dari sentimen geopolitik di Timur Tengah. Di sisi lain, faktor domestik juga ikut memberi tekanan sehingga arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih sulit dipastikan.

Rupiah bahkan beberapa kali bergerak di atas Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut selama tensi konflik di Timur Tengah belum mereda.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpeluang melemah ke kisaran Rp17.200-Rp17.300 per dolar AS dalam waktu dekat. Menurutnya, arah selanjutnya sangat bergantung pada intervensi kebijakan, data ekonomi, dan perkembangan perdamaian di Timur Tengah.

"Jangka pendek Rp17.200-Rp17.300 bisa. Penguatan tergantung apakah karena intervensi, data ekonomi atau perdamaian di Timteng. Kalau damai bisa balik ke Rp16.500-Rp16.700. Di luar itu Rp16.900-Rp17.000," kata Lukman.

Ia menegaskan, sentimen geopolitik global masih menjadi penentu utama pergerakan rupiah. Namun, tekanan dari dalam negeri juga tidak bisa diabaikan, seperti penurunan cadangan devisa, menyempitnya surplus, hingga defisit anggaran.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman. Ia menilai posisi rupiah di atas Rp17.000 per dolar AS masih tergolong aman secara fundamental, tetapi sudah masuk zona rentan.

Menurut Rizal, pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, seperti menguatnya dolar AS, suku bunga global yang tinggi, dan keluarnya arus modal asing. Meski begitu, ia menilai tekanan belakangan ini juga semakin dipengaruhi persepsi pasar terhadap kondisi domestik.

"Walaupun indikator makro Indonesia masih cukup solid seperti pertumbuhan sekitar 5 persen, rasio utang sekitar 40 persen PDB, dan cadangan devisa di atas US$150 miliar," ujarnya.

Ia menambahkan, tekanan juga datang dari kondisi fiskal yang makin ketat dan menurunnya kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN). Karena itu, stabilitas rupiah sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah.

Dalam proyeksinya, pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut. Namun, level Rp18.000 per dolar AS bukan skenario utama, melainkan skenario stres jika terjadi kombinasi guncangan global dan turunnya kepercayaan pasar domestik.

Untuk skenario normal, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.800-Rp17.300 per dolar AS. Sementara jika tekanan meningkat, pelemahan bisa berlanjut hingga Rp17.500-Rp18.000.

Di sisi lain, ruang penguatan rupiah dinilai terbatas dalam jangka pendek. Kembali ke level Rp15.000 per dolar AS disebut belum realistis untuk saat ini.

"Penguatan optimal paling di sekitar Rp16.000-Rp16.500. Intinya, isu utama bukan level rupiah, tetapi daya tahannya terhadap tekanan eksternal dan kemampuan menjaga kepercayaan pasar domestik," tegas Rizal.

Ia menekankan pentingnya disiplin fiskal serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter agar tidak saling meniadakan. Menurutnya, penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada intervensi pasar, tetapi juga pada kemampuan pemerintah memulihkan kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya