Peringkat Utang Asia Tenggara Tertekan, Indonesia Dinilai Paling Rentan

16 Apr 2026 • 14:49 iMedia

MEDIAHUB.ID – Konflik yang memanas di Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi di Asia Tenggara. Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memperingatkan adanya tekanan terhadap peringkat utang negara-negara di kawasan jika krisis energi berkepanjangan.

Dalam laporan terbarunya, S&P menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling rentan di antara negara-negara Asia Tenggara. Posisi Indonesia dinilai paling terancam karena bantalan peringkat kredit yang relatif lebih lemah dibandingkan negara tetangga.

"Kualitas kredit negara dengan bantalan peringkat yang lebih tipis dapat menurun dalam skenario gangguan berkepanjangan di pasar energi. Di Asia Tenggara, kami menilai peringkat kedaulatan Indonesia akan lebih rentan jika konflik berlarut-larut," tulis S&P, dikutip Kamis, 16 April 2026.

S&P menyebut ada tiga beban utama yang dapat menghantam Indonesia apabila harga energi terus melonjak. Pertama, beban subsidi yang membengkak akibat naiknya harga energi. Kedua, defisit transaksi berjalan yang berpotensi melebar karena impor minyak menjadi lebih mahal. Ketiga, biaya pinjaman yang bisa ikut naik seiring tekanan inflasi dan kenaikan suku bunga.

Meski berada di kawasan yang sama, tingkat ketahanan negara-negara Asia Tenggara dinilai berbeda. Malaysia disebut berada dalam posisi paling stabil. Walaupun defisit fiskal dan subsidi berpotensi meningkat, kedalaman pasar modal serta pertumbuhan ekonomi yang kuat dinilai menjadi penyangga. S&P menilai penurunan fiskal sementara di Malaysia kemungkinan tidak akan langsung memicu perubahan peringkat utang.

Sementara itu, Thailand dinilai memiliki kebijakan moneter dan posisi eksternal yang cukup kuat untuk meredam guncangan. Vietnam juga dianggap memiliki bantalan yang memadai, meski tetap perlu mewaspadai risiko likuiditas eksternal jika biaya impor energi terus naik dan menggerus cadangan devisa.

S&P dalam proyeksinya menggunakan asumsi bahwa puncak intensitas perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz akan mereda pada April ini. Namun, dampak dari kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah diperkirakan masih akan terasa selama beberapa bulan ke depan.

Dalam skenario tersebut, harga minyak mentah Brent diperkirakan bertahan di kisaran rata-rata 85 dolar AS per barel hingga akhir 2026.

Sumber: RMOL

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya