Pemerintah Tingkatkan Akses Listrik ke Daerah Terpencil hingga 2029

03 Sep 2025 • 05:25 admin

Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan akses listrik di daerah terpencil atau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui program Listrik Desa (Lisdes) 2025-2029. Program ini bertujuan menjangkau lebih dari 5.000 desa dan sekitar 1,2 juta rumah tangga yang belum teraliri listrik PLN.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung, menyatakan bahwa program ini merupakan wujud kehadiran negara dalam membangun masyarakat pelosok. Ia menegaskan, “Program ini dapat membuka kesempatan lebih luas bagi pendidikan, ekonomi, dan layanan kesehatan yang lebih baik.”

Desa yang menjadi prioritas adalah yang tertinggal dan terpencil dengan kebutuhan sosial tertinggi. Untuk mengatasi tantangan akses di daerah 3T, pemerintah menggunakan kombinasi sistem “on grid” dan “off grid”. Sistem “on grid” merupakan panel surya yang terhubung dengan jaringan PLN, sementara “off grid” adalah sistem mandiri yang tidak terhubung dengan jaringan PLN.

Langkah awal program ini telah dilakukan dengan peresmian 55 pembangkit listrik energi terbarukan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juni lalu. Pembangkit tersebut terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang tersebar di 15 provinsi dengan total kapasitas 379,7 Megawatt.

Hingga pertengahan 2025, proyek-proyek PLTS perdesaan telah memasuki tahap konstruksi. Rasio elektrifikasi nasional telah mencapai sekitar 99,83% pada akhir 2024, sehingga program Lisdes 2025-2029 difokuskan untuk menuntaskan desa-desa yang belum teraliri listrik.

Program Listrik Desa ini dijalankan melalui penugasan kepada PT PLN (persero) untuk memastikan seluruh pelosok desa di Indonesia dapat menikmati listrik. Hingga akhir 2024, sebanyak 83.693 desa dan kelurahan telah teraliri listrik.

admin
Penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya