Konflik AS-Israel dan Iran Meluas, Seberapa Dekat Dunia ke Perang Dunia III?

06 Apr 2026 • 05:39 iMedia

Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus memanas memunculkan kekhawatiran global mengenai kemungkinan meluasnya konflik ke perang berskala dunia. Meski saat ini masih tergolong konflik regional, eskalasi di Timur Tengah dinilai dapat berdampak lebih luas jika tidak segera diredam.

Sejumlah wilayah di kawasan, mulai dari Arab Saudi, Irak, Qatar, hingga Lebanon, ikut merasakan dampak dari meningkatnya tensi tersebut. Kondisi ini membuat muncul pertanyaan: seberapa dekat dunia dengan Perang Dunia III?

Sejarawan Universitas Oxford, Margaret MacMillan, menilai perang besar kerap tidak diawali dengan perencanaan yang matang, melainkan dari rangkaian kesalahan kecil yang berkembang menjadi eskalasi besar. Ia mencontohkan Perang Dunia I, yang dipicu pembunuhan Franz Ferdinand dan kemudian menyeret banyak negara melalui aliansi militer.

“Khalayak cenderung berpikir bahwa perang direncanakan dengan sangat hati-hati dan bahwa mereka yang berperang tahu persis apa yang mereka lakukan,” kata MacMillan. “Faktanya, jika Anda melihat perang-perang di masa lalu, seperti Perang Dunia Pertama, hal yang akhirnya menjadi pemicu adalah kecelakaan dan ada juga fakta orang-orang salah menilai lawan mereka,” ujarnya.

Menurut MacMillan, perang dunia sering kali terjadi karena efek domino dari keputusan politik dan keterlibatan banyak kekuatan besar. Ia menyebut pembunuhan Franz Ferdinand pada 1914 menjadi awal rangkaian peristiwa yang kemudian menyeret Austria-Hongaria, Jerman, Rusia, Prancis, hingga Inggris ke dalam perang.

Terkait situasi Timur Tengah, MacMillan menilai Iran berpotensi menjadi titik eskalasi, terutama jika konflik melebar ke Selat Hormuz, jalur strategis distribusi energi dunia. Keterlibatan Amerika Serikat juga dinilai dapat memperbesar risiko meluasnya konflik.

Ia menambahkan, satu konflik di suatu wilayah juga bisa memicu ketegangan di kawasan lain. Dalam skenario perang besar, negara-negara seperti China atau Rusia bisa saja memanfaatkan situasi global untuk meningkatkan tekanan di wilayah berbeda, meski tidak selalu terlibat langsung.

Pandangan berbeda disampaikan Joe Maiolo dari King’s College London. Ia menilai kecil kemungkinan China dan Rusia masuk langsung ke dalam konflik ini. Menurut dia, negara-negara besar cenderung memanfaatkan situasi tanpa harus terjun dalam perang terbuka.

“Jika kita berbicara tentang Perang Dunia, Perang Dunia Ketiga, saya rasa tidak ada kecenderungan bagi China atau Rusia untuk terlibat langsung sama sekali,” kata Maiolo.

MacMillan juga menyoroti peran para pemimpin dalam memperpanjang atau meredam perang. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa kesombongan, rasa kehormatan, hingga ketakutan terhadap lawan kerap menjadi faktor yang mendorong konflik semakin luas.

Ia mencontohkan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai sosok yang, menurutnya, telah membuat keputusan keliru dengan menyerang Ukraina. MacMillan menilai, ketika para pemimpin enggan mengakui kegagalan atau mundur, konflik justru bisa semakin dalam dan berkepanjangan.

Di sisi lain, jalan keluar dari eskalasi tetap terbuka melalui diplomasi. MacMillan menekankan pentingnya komunikasi antarnegara untuk mencegah situasi makin memburuk. Menurutnya, dalam sejarah Perang Dingin, banyak pihak akhirnya menyadari bahwa ketegangan tidak bisa dibiarkan terus meningkat.

Profesor Maiolo juga menilai perlu ada pengakuan dari Tel Aviv, Washington, dan Teheran bahwa masing-masing pihak telah mencapai batas kemampuan. Menurutnya, perang berkepanjangan tidak akan memberikan hasil yang diinginkan, sehingga mediasi dan pengaturan keamanan menjadi kunci menuju gencatan senjata yang lebih langgeng.

Dengan situasi yang masih dinamis, para pengamat menilai dunia perlu mewaspadai setiap eskalasi baru, sekaligus memperkuat jalur diplomasi agar konflik regional tidak berubah menjadi krisis global.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya