Pabrikan Otomotif Jepang Tertekan di Thailand, Indonesia Ikut Terdampak?

18 Apr 2026 • 15:32 iMedia

MEDIAHUB.ID – Pangsa pasar pabrikan otomotif Jepang di Thailand dilaporkan merosot tajam seiring meningkatnya dominasi mobil asal China. Kondisi ini memicu penyesuaian besar di industri otomotif, termasuk ancaman pemutusan hubungan kerja bagi para pekerja pabrik.

Data Automotiveworld pada awal 2026 menunjukkan penguasaan pasar merek Jepang di Thailand turun dari sekitar 90 persen menjadi 70 persen. Sebaliknya, merek-merek asal China seperti BYD, GWM, dan Chery justru mencatat pertumbuhan pesat, bahkan hingga empat kali lipat.

Tekanan persaingan membuat sejumlah pabrikan lama mengambil langkah konsolidasi untuk bertahan. Suzuki dan Subaru disebut telah menutup pabrik mereka di Thailand, sementara perubahan besar di sektor kendaraan listrik juga mempercepat pergeseran industri.

Masuknya era kendaraan listrik dan otomatisasi pabrik dinilai menjadi tantangan baru bagi tenaga kerja otomotif. Mobil listrik membutuhkan lebih sedikit komponen dibanding kendaraan konvensional, sehingga kebutuhan pekerja di jalur produksi ikut berkurang.

Situasi ini menempatkan sekitar satu juta pekerja pabrik dalam posisi rentan. Mereka terancam kehilangan mata pencaharian akibat percepatan penggunaan robot dan perubahan sistem perakitan di industri otomotif.

Federasi serikat pekerja internasional, IndustriALL Global Union, meminta perusahaan tidak mengambil keputusan sepihak. Direktur Industri Otomotif dan Dirgantara IndustriALL Global Union, Georg Leutert, menegaskan pentingnya keberadaan serikat pekerja dalam proses transisi industri.

“Dari perspektif serikat pekerja, hal paling mendasar adalah adanya serikat itu sendiri. Perusahaan tidak boleh menutup ruang bagi pekerja untuk memiliki suara kolektif dan terlibat dalam dialog,” ujar Leutert.

Ia juga menilai pesangon saja tidak cukup untuk menghadapi dampak perubahan industri. Menurutnya, perusahaan perlu membuka ruang dialog yang berkelanjutan dengan pekerja serta mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat luas.

“Harus ada pertukaran yang berkelanjutan antara manajemen dan pekerja untuk mencari solusi bersama. Selain itu, perusahaan juga harus melihat dampaknya terhadap masyarakat luas,” jelasnya.

Meski persoalan utama terjadi di Thailand, perubahan lanskap industri otomotif di kawasan Asia Tenggara berpotensi ikut berdampak ke negara lain, termasuk Indonesia, terutama jika tren investasi, produksi, dan rantai pasok terus bergeser.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya