Kasus Anak 3 Tahun Alami Kekerasan Seksual Soroti Kegagalan Sistem Penahanan Imigrasi AS
MEDIAHUB.ID – Sebuah kasus yang diungkap Program Pro Bono Perlindungan Pencari Suaka dari American Bar Association pada 5 April menyoroti sisi gelap sistem penahanan imigrasi Amerika Serikat. Seorang anak perempuan berusia 3 tahun dilaporkan mengalami pelecehan seksual selama berada dalam tahanan federal.
Kasus ini bermula ketika sang anak dipisahkan dari ibunya setelah melintasi perbatasan AS-Meksiko dan ditempatkan di bawah pengawasan Kantor Pemukiman Kembali Pengungsi (ORR), lembaga federal yang bertanggung jawab merawat anak imigran tanpa pendamping. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi ruang perlindungan itulah kekerasan justru terjadi.
Selama berbulan-bulan, ayah anak tersebut, yang merupakan penduduk tetap sah, disebut berupaya memperoleh informasi tentang kondisi putrinya. Namun, ia tidak mendapat penjelasan yang jelas dari pihak ORR. Saat ditanya, pejabat hanya menyebut ada sesuatu yang tidak terduga tanpa mengungkap bahwa yang terjadi adalah pelecehan seksual.
Dalam laporan tersebut, ORR juga dinilai lamban memproses permohonan sang ayah untuk kembali menyatukan keluarga. Meski aturan mewajibkan reunifikasi dilakukan dalam waktu 10 hari jika salah satu orang tua adalah warga negara atau penduduk tetap sah, permohonan itu justru tertunda hingga lima bulan.
Kasus ini mencuat di tengah meningkatnya durasi penahanan anak-anak di bawah pengawasan ORR. Sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih, rata-rata masa penahanan dilaporkan melonjak dari 37 hari menjadi hampir 200 hari, meski jumlah anak yang ditahan menurun sekitar setengahnya.
Setelah menempuh jalur habeas corpus, sang ayah akhirnya berhasil mendapatkan kembali putrinya dalam waktu dua hari. Jalur hukum darurat itu umumnya dipakai untuk menentang penahanan yang dianggap ilegal.
Kasus ini kembali memunculkan kritik terhadap sistem penahanan imigrasi AS yang dinilai gagal melindungi anak-anak. Alih-alih memberi perlindungan, sistem tersebut justru disebut memicu pemisahan keluarga, penahanan berkepanjangan, dan kekerasan di dalam fasilitas yang diklaim aman.
Peristiwa ini juga memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai akuntabilitas lembaga penahanan imigrasi di AS, serta sejauh mana sistem yang ada benar-benar mampu menjamin keselamatan anak-anak migran yang berada dalam pengawasannya.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
