Akademisi Soroti Hasil Diplomasi Energi Bahlil ke Rusia

18 Apr 2026 • 09:24 iMedia

MEDIAHUB.ID – Kesepakatan hasil pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev terkait suplai minyak mentah, LPG, dan pengembangan fasilitas penyimpanan menuai beragam respons.

Peneliti Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Mineral Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ridho Hantoro, menilai tambahan pasokan dari Rusia merupakan langkah taktis yang masuk akal untuk mendukung diversifikasi energi nasional. Menurut dia, kebijakan ini dapat memperluas opsi pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan impor dari satu wilayah.

“Tambahan pasokan dari Rusia adalah langkah taktis yang masuk akal untuk memperluas opsi pasok dan mengurangi risiko konsentrasi impor,” kata Ridho, Sabtu, 18 April 2026.

Ridho juga mengapresiasi rencana pembangunan fasilitas penyimpanan atau storage yang menjadi bagian dari kerja sama tersebut. Ia menyebut langkah itu lebih strategis karena memperkuat ketahanan sistem energi, bukan sekadar menambah volume pembelian dalam jangka pendek.

“Pembangunan storage adalah langkah strategis yang lebih fundamental, karena memperkuat ketahanan sistem, bukan hanya menambah volume pembelian sesaat,” ujarnya.

Meski begitu, Ridho mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan energi tidak cukup dinilai dari capaian diplomatik semata. Ia menegaskan, ada sejumlah hal teknis yang perlu dipastikan, mulai dari harga pasokan, kecocokan crude dengan kilang, hingga efektivitas LPG dalam mengurangi tekanan impor.

“Keberhasilan kebijakan ini nanti tidak diukur dari headline diplomatiknya, tetapi dari hal-hal yang sangat konkret, apakah harga pasokan lebih kompetitif, apakah crude-nya cocok untuk kilang, apakah LPG benar-benar mengurangi tekanan impor, apakah storage berada di lokasi logistik yang tepat, dan apakah stok itu benar-benar bisa diakses cepat saat krisis,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, dosen dan peneliti kebijakan publik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ahmad Nizar Hilmi, juga menilai kerja sama energi dengan Rusia perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Menurut dia, kesepakatan itu bukan hanya solusi teknis untuk menambah stok, tetapi juga bagian dari dinamika ekonomi-politik energi global yang memengaruhi kebijakan domestik.

“Dalam perspektif kebijakan, kerja sama pasokan energi dengan Rusia perlu dibaca bukan sekadar solusi teknokratis untuk menambah stok, tetapi juga bagian dari dinamika ekonomi-politik energi global yang membentuk pilihan kebijakan domestik,” kata Ahmad Nizar.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya