Bukan Hanya Usia, Kolagen Turun dan Teknik yang Kurang Tepat Bisa Picu Wajah Kempot

19 Apr 2026 • 05:30 iMedia

MEDIAHUB.ID – Fenomena wajah kempot setelah prosedur ultrasound tidak semata-mata dipicu oleh pertambahan usia. Kondisi itu juga bisa muncul akibat distribusi energi yang tidak presisi pada lapisan kulit sehingga hasil perawatan tampak membuat wajah lebih hollow.

Menurut dr. Aldisa, Medical Director dan Founder Altruva Aesthetic Clinic, persoalan tersebut bukan sekadar efek samping biasa, melainkan akibat pendekatan yang kurang tepat dalam penggunaan energi. Ia menilai, distribusi energi ultrasound yang tidak akurat menjadi salah satu faktor utama munculnya tampilan wajah cekung.

Seiring bertambahnya usia, terutama setelah memasuki 40 tahun, produksi kolagen dalam tubuh memang menurun secara alami. Padahal, kolagen berperan penting menjaga kekenyalan, struktur, dan volume kulit. Saat kadarnya berkurang, kulit tidak hanya mengendur, tetapi juga kehilangan “isi” sehingga wajah terlihat lebih kempot.

Dr. Aldisa menjelaskan, kolagen tidak akan beregenerasi optimal tanpa rangsangan. Ia menyebut kolagen sebagai komponen yang cenderung “malas” memperbarui diri jika tidak diberi stimulasi.

“Kolagen itu kalau enggak ada ‘luka’, dia enggak akan memperbarui diri. Bahkan dalam kondisi alami, bisa sampai belasan tahun tanpa regenerasi signifikan,” ujarnya.

Karena itu, stimulasi kolagen menjadi bagian penting dalam perawatan anti-aging. Namun, menurutnya, rangsangan tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada dua pendekatan utama yang perlu dikombinasikan, yakni teknologi berbasis energi dengan controlled injury dan penggunaan biostimulator untuk mendorong regenerasi dari dalam.

“Jadi, kita butuh dua cara untuk menstimulasi kolagen: satu dengan mesin yang memberikan injury terkontrol, dan satu lagi dengan biostimulator. Istilahnya hit and biostim,” jelasnya.

Selain faktor usia dan prosedur, gaya hidup juga dinilai berpengaruh besar terhadap penurunan kualitas kolagen. Konsumsi gula berlebih, paparan sinar UV, polusi, serta kurangnya asupan protein dapat memperburuk kondisi kulit.

“Kolagen itu butuh bahan bakar, yaitu protein. Tanpa itu, proses regenerasi tidak optimal. Kita bukan cuma bangun otot, tapi juga bangun kolagen,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya latihan kekuatan bagi perempuan usia 40 tahun ke atas, terutama menjelang menopause. Aktivitas seperti squat dan deadlift disebut dapat membantu menjaga keseimbangan hormon yang turut memengaruhi kualitas kulit.

“Saya sering bilang ke pasien, skincare paling ‘canggih’ itu bukan cuma krim—tapi squat dan deadlift. Karena hormon yang mendukung kualitas kulit juga dipengaruhi oleh massa otot,” katanya.

Dalam praktiknya, Altruva Aesthetic Clinic menggunakan teknik A.R.T Lift by Sofwave untuk membantu menjaga volume dan keseimbangan struktur wajah pasien.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya